Rabu, 23 September 2009

CERITA CINTA DALAM RANJANG

ANAK SMA NAKAL

Namaku adalah Andi (bukan nama yang sebenarnya), dan aku kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Aku berasal dari luar daerah dan aku tinggal di kost. Aku pun termasuk orang yang berada, serta sangat menjalankan keagamaan yang kuat. Apalagi untuk mencoba narkoba atau segala macam, tidak deh.

Kejadian ini bermula pada waktu kira-kira 4 bulan yang lalu. Tepatnya hari itu hari Selasa kira-kira jam 14:12, aku sendiri bingung hari itu beda sekali, karena hari itu terlihat mendung tapi tidak hujan-hujan. Teman satu kostan-ku mengatakan kepadaku bahwa nanti temanya anak SMU akan datang ke kost ini, kebetulan temanku itu anak sekolahan juga dan hanya dia yang anak SMU di kost tersebut.

Setelah lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu datang juga, kemudian temanku langsung mengajaknya ke tempat kamarku yang berada di lantai atas. Akhirnya aku dikenali sama perempuan tersebut, sebut saja namanya Ria. Lama-lama kami ngobrol akhirnya baru aku sadari bahwahari menjelang sore. Kami bertiga bersama dengan temanku nonton TV yang ada di kamarku. Lama-lama kemudian temanku pamitan mau pergi ke tempat temannya, katanya sih ada tugas.

Akhirnya singkat cerita kami berdua di tinggal berdua dengan Ria. Aku memang tergolong cowok yang keren, Tinggi 175 cm, dengan berat badan 62 kg, rambut gelombang tampang yang benar-benar cute, kata teman-teman sih. Ria hanya menatapku tanpa berkedip, akhirnya dia memberanikan diri untuk menggelitikku dan aku tidak tahu darimana dia mengetahui kelemahanku yang sangatvital itu kontan saja aku langsung kaget dan balik membalas serangan Ria yang terus menerus menggelitikiku. Lama kami bercanda-canda dan sambil tertawa, dan kemudian diam sejenak seperti ada yang lewat kami saling berpandang, kemudian tanpa kusadari Ria mencium bibirku dan aku hanya diam kaget bercampur bingung.

Akhirnya dilepaskannya lagi ciumannya yang ada di bibirku, aku pun heran kenapa sih nih anak? pikirku dalam hati. Ria pun kembali tidur-tiduran di kasur dan sambil menatapku dengan mata yang uih… entah aku tidak tahu mata itu seolah-olah ingin menerkamku. Akhirnya dia melumat kembali bibirku dan kali ini kubalas lumatan bibirnya dengan hisapan-hisapan kecil di bibir bawah dan atasnya. Lama kami berciuman dan terus tanpa kusadari pintu kamar belum tertutup, Ria pun memintaku agar menutup pintu kamarku, entah angin apa aku hanya nurut saja tanpa banyak protes untuk membantah kata-katanya.

Setelah aku menutup pintu kamar kost-ku Ria langsung memelukku dari belakang dan mencumbuku habis-habisan. Kemudian kurebahkan Ria di kasur dan kami saling berciuman mesra, aku memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya Ria yang kira-kira berukuran berapa ya…? 34 kali, aku tidak tahu jelas tapi sepertinya begitu deh, karena baru kali ini aku menuruni BH cewek. Dia mengenakan tengtop dan memakai sweater kecil berwarna hitam. Aku menurunkan tengtop-nya tanpa membuka kutangnya. Kulihat buah dada tersebut… uih sepertinya empuk benar, biasanya aku paling-paling lihat di BF dan sekarang itu benar-benar terjadi di depan mataku saat ini.

Tanpa pikir panjang, kusedot saja buah dada Ria yang kanan dan yang kirinya aku pelintir-pelintir seperti mencari gelombang radio. Ria hanya mendesah, “Aaahhh… aaahhh… uuhhh…”Aku tidak menghiraukan gelagat Ria yang sepertinya benar-benar sedang bernafsu tinggi. Kemudian aku pun kepingin membuka tali BH tengtop-nya. Kusuruh Ria untuk jongkok dan kemudian baru aku melihat ke belakang Ria, untuk mencari resliting kutangnya. Akhirnya ketemu juga dan gundukan payudara tersebut lebih mencuat lagi karena Ria yang baru duduk di bangku SMU kelas 2 dengan paras yang aduhai sehingga pergumulan ini bisa terjadi. Dengan rakusnya kembali kulumat dada Ria yang tampak kembali mengeras, perlahan-lahan ciumanku pun turun ke bawah ke perut Ria dan aku melihat celana hitam Ria yang belum terbuka dan dia hanya telanjang dada.

Aku memberanikan diri untuk menurunkan celana panjang Ria, dan Ria pun membantu dengan mengangkat kedua pinggulnya. Ria pun tertawa dan berkata, “Hayo tidak bisa dibuka, soalnya Ria mempunyai celana pendek yang berwarna hitam satu lagi…” ejek Ria sambil tersenyum girang.Aku pun dengan cueknya menurunkanya kembali celana tersebut, dan kali ini barulah kelihatan celana dalam yang berwarna cream dan dipinggir-pinggirnya seperti ada motif bunga-bunga, aku pun menurunkanya kembali celana dalam milik Ria dan tampaklah kali ini Ria dalam keadaanbugil tanpa mengenakan apapun. Barulah aku melihat pemandangan yang benar-benar terjadi karena selama ini aku hanya berani berilusi dan nonton tidak pernah berbuat yang sebenarnya.

Aku pandangi dengan seksama kemaluan Ria dengan seksama yang sudah ditumbuhi bebuluan yang kira-kira panjangnya hanya 2 cm tapi sedikit, ingin rasanya mencium dan mengetahui aroma kemaluan Ria. Aku pun mencoba mencium perut Ria dan pusarnya perlahan tapi pasti, ketika hampir mengenai sasaran kemaluannya Ria pun menghindari dan mengatakan, “Jangan dicium memeknya akh.. geliii…” Ria mengatakan sambil menutup rapat kedua selangkangannya.

Yah, mau bagaimana lagi, langsung saja kutindih Ria, kucium-cium sambil tangan kiriku memegang kemaluan Ria dan berusaha memasukkanya ke dalam selangkangan Ria. Eh, Ria berontak iiihhh… ge.. li..” ujar Ria. Tahu-tahu Ria mendorong badanku dan terbaliklah keadaan sekarang, aku yang tadinya berada di atas kini berubah dan berganti aku yang berada di bawah, kuat sekali dorongan perempuan yang berbobot kira-kira 45 kg dengan tinggi 160 cm ini, pikirku dalam hati. “Eh… buka dong bajunya! masak sih Ria doang yang bugil Andinya tidak…?” ujar Ria sambil mencopotkanbaju kaos yang kukenakan dan aku lagi-lagi hanya diam dan menuruti apa yang Ria inginkan.

Setelah membuka baju kaosku, tangan kanan Ria masuk ke dalam celana pendekku dan bibirnya sambil melumat bibirku. Gila pikirku dalam hati, nih cewek kayaknya sdah berpengalaman dan dia lebih berpengalaman dariku. Perlahan-lahan Ria mulai menurunkan celana pendekku dan muncullah kemaluanku yang besarnya minta ampun (kira-kira 22 cm). Dan Ria berdecak kagum dengan kejantananku, tanpa basa-basi Ria memegangnya dan membimbingnya untuk masuk ke dalam liang senggama miliknya Ria, langsung saja kutepis dan tidak jadi barang tersebut masuk ke lubang kemaluan Ria. “Eh, jangan dong kalau buat yang satu ini, soalnya gue belum pernah ngelakuinnya…” ujarku polos. “Ngapain kita udah bugil gini kalau kita tidak ngapa-ngapain, mendingan tadi kita tidak usah buka pakaian segala,” ujar Ria dengan nada tinggi.

Akhirnya aku diam dan aku hanya menempelkan kemaluanku di permukaan kemaluan Ria tanpa memasukkanya. “Begini aja ya…?” ujarku dengan nada polos. Ria hanya mengangguk dan begitu terasanya kemaluanku bergesek di bibir kemaluan Ria tanpa dimasukkan ke dalam lubang vaginanya milik Ria, aku hanya memegang kedua buah pantat Ria yang montok dan secara sembunyi-sembunyiaku menyentuh bibir kemaluan Ria, lama kami hanya bergesekan dan tanpa kusadari akhirnya kemaluanku masuk di dalam kemaluan Ria dan Ria terus-terusan menggoyang pantatnya naik-turun.Aku kaget dan bercampur dengan ketakutan yang luar bisa, karena keperawanan dalam hal ML yang aku jaga selama ini akhirnya hilang gara-gara anak SMU. Padahal sebelum-sebelumnya sudah ada yang mau menawari juga dan dia masih perawan lebih cantik lagi aku tolak dan sekarang hanya dengan anak SMU perjakaku hilang.

Lama aku berpikir dan sedangkan Ria hanya naik-turun menggoyangkan pentatnya semenjak aku melamun tadi, mungkin dia tersenyum puas melihat apa yang baru dia lakukan terhadapku. Yach, kepalang tanggung sudah masuk, lagi nasi sudah jadi bubur akhirnya kugenjot juga pantatku naik-turun secara berlawanan dengan yang dilakukan Ria, dan bunyilah suara yang memecahkan keheningan, “Cplok.. cplok… cplok…” Ria mendesah kenikmatan karena kocokanku yang kuat dilubang vaginanya. Lama kami berada di posisi tersebut, yaitu aku di bawah dan dia di atas.akhirnya aku mencoba mendesak Ria agar dia mau mengganti posisi, tapi dorongan tangannya yang kuat membatalkan niatku, tapi masa sih aku kalah sama cewek, pikirku. Kudorong ia dengan sekuat tenagaku dan akhirnya kami berada di posisi duduk dan kemaluanku tetap berdiri kokoh tanpa dilepas. Ria tanpa diperintah menggerakkan sendiri pantatnya, dan memang enak yah gituan, pikirku dalam hati. Tapi sayang tidak perawan.

Akhirnya kudorong lagi Ria agar dia tiduran telentang dan aku ingin sekali melihat kemaluanku yang besar membelah selangkangan kemaluan Ria, makanya aku sambil memegang batang kemaluanku menempelkannya di lubang kemaluan Ria dan “Bless…” amblaslah semuanya. Kutekan dengan semangat “45″ tentunya karena nasi sudah hancur. Kepalang tanggung biarlah kuterima dosa ini, pikirku. Dengan ganasnya dan cepat kuhentakkan kemaluanku keras-keras di lubang kemaluan Ria dan kembali bunyi itu menerawang di ruangan tersebut karena ternyata lubang kemaluan Ria telah banjir dengan air pelumasnya disana, aku tidak tahu pasti apakah itu spermanya Ria, apakah hanya pelumasnya saja? dan Ria berkata,
“Loe.. udah keluar ya…?” ujarnya.
“Sembarangan gue belom keluar dari tadi..?” ujarku dengan nada ketus.
Karena kupikir dia mengejekku karena mentang-mentang aku baru pertama kali beginian seenaknya saja dia menyangka aku keluar duluan. Akhirnya lama aku mencumbui Ria dan aku ingin segera mencapai puncaknya.

Dengan cepat kukeluarkan kemaluanku dari lubang kemaluannya dan kukeluarkan spermaku yang ada diperutnya Ria, karena aku takut kalau aku keluarkan di dalam vaginanya aku pikir dia akan hamil,kan berabe. Aku baru sekali gituan sama orang yang yang tidak perawan malah disuruh tanggung jawab lagi. Gimana kuliahku! Ria tersenyum dengan puas atas kemenangannya menggodaku untuk berbuat tidak senonoh terhadapnya. Huu, dasar nasib, dan semenjak saat itu aku sudah mulai menghilangkan kebiasaaan burukku yaitu onani, dan aku tidak mau lagi mengulang perbuatan tersebut karena sebenarnya aku hanya mau menyerahkannya untuk istriku seorang. Aku baru berusia 21 tahun saat ini. Aku nantikan keritik dan saran dengan apa yang terjadi denganku saat inidan itu membuatku shock.

Dari Les ke Cintanya Gita

Namaku Nova, l mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang. Kisah ini kualami saat aku bertemu dengan seorang gadis yang bernama Gita. Gita adalah seorang gadis pelajar sebuah SMU di kota Malang. Perkenalan kami berawal disaat aku mengantar adikku di pesta ulang tahun temannya. Wajah yang cantik pikirku saat aku mulai bertatapan mata dengan dia. Entah bagaimana, lanjutnya hingga seminggu setelah perkenalan kami peristiwa 'nikmat' ini terjadi.

Saat itu cuaca kota Malang sedang mendung, sekitar pukul 16.40 aku menerima telepon dari Gita, bahwa dia akan datang ke rumah kontrakanku untuk belajar Fisika bersama. Kira-kira pukul 18.00 bel pintu rumahku mengalun, segera kubuka pintunya dan betapa aku sangat terpesona melihat pemandangan indah yang kini ada di hadapanku.
"Gita.., e.. e.. si.. silakan masuk..!" kataku dengan agak terpatah-patah.
"E.., Rina ada Mas..?" tanyanya sambil pandangannya melihat ke dalam rumah.

Saat itu memang Rina adikku sedang pergi ke rumah tante yang tidak jauh dari jalur rumah kontrakanku. Tidak lama kemudian kami duduk di sofa ruang tamu sambil mengerjakan tugas Fisika yang diberikan gurunya siang tadi.
"Ada PR apa..?" tanyaku.
"Ini lho Mas.. diberi tugas untuk ngerjakan bab tentang Thermodinamika. Padahal aku paling sebel deh kalo belajar fisika," ungkapnya dengan nada agak sewot.
"Ya udah.. nggak pa-pa, entar kalo Mas bisa Mas bantuin ya..?"

Segera aku mengambil posisi duduk melantai di antara meja dan sofa. Gita pun segera mengeluarkan buku yang sejak tadi bernaung di dalam tas warna hijau muda yang dibawanya. Akhirnya aku pun ikut bermain dalam soal-soal yang dia kerjakan. Sesekali saat aku menjelaskan tentang jawaban itu, pandangannya kurasakan kosong menuju wajahku. Dan terkadang tanpa sengaja, siku tanganku menyentuh dua buah tonjolan yang ada di bagian dadanya.

"Sebentar.., Mas buatin minum dulu ya..?" kataku sambil beranjak dari sampingnya.
Tidak berapa lama kemudian aku kembali sambil membawa dua buah gelas minuman.
"Rina.. kok belum datang juga sich Mas..?" ungkapnya manja.
"Tunggu aja.. entar lagi dia pulang." jawabku.
"Oh ya.., gimana PR-nya, udah beres atau.. masih ada lagi yang harus dikerjakan..?" kataku sambil kembali aku duduk di posisi semula.
"Kayaknya.. udah." jawabnya sambil membuka lembaran buku tugasnya.

Waktu terus berjalan.. dan kulihat saat itu sudah pukul 19.25 WIB. Saat itulah aku mulai merasakan ada getar-getar nafsu yang kian menggelora di dalam benakku. Saat itulah aku mulai berani mengungkapkan kata-kata rayuan yang membuatnya tersipu. Entah berawal dari mana hal ini terjadi. Kupegang lengan tangannya.., dia mulai memandangku dengan penuh rasa malu. Namun tidak kuhentikan aksiku disini, malahan aku semakin berani untuk membenamkan bibirku ke bibirnya yang mungil dan merah basah itu.

Sepintas aku melihat dia memejamkan matanya dengan sayup, dan membalas kecupan bibirku dengan lembutnya. Tanganku mulai menjelajah di bagian-bagian sensitifnya. Kuselipkan tanganku di bagian kancing bajunya, aku semakin bernafsu saat aku menyentuh dan meremas bagian payudaranya yang kenyal dan padat berisi itu.
Segera aku merayap turun menciumi bagian lehernya, dan.. "Ouhgf..!" terdengar lirih desah nafasnya yang membuat nafsuku semakin menggejolak.

Tiba-tiba.., "Kring.., kring..," kami sempat terkejut mendengar suara telepon itu.
Segera aku berdiri untuk menerima telepon tersebut.
"Halo..?" terdengar suara disana yang aku hafal betul, itu suara Rina.
"Mas.. sorry, aku nggak pulang malam ini. Aku bobok di rumah Tante Mira. Oh ya.., kalau Gita datang, bilangin bukunya ada di alamari bacaku. Udah dulu ya.., daag..," katanya tanpa memberi aku kesempatan untuk menjawab.
Dengan agak kesal kuletakkan gagang telepon di tempatnya.

"Telpon dari siapa Mas..?" kutangkap suara itu dari hadapanku berdiri.
"Oh.., ini dari Rina. Dia nggak pulang malam ini..," kataku.
"Jadi Rina nggak pulang..? Kalo gitu saya pulang dulu ya Mas..!" katanya sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya.
"Eit.., mau kemana..?" tanyaku sambil aku mendekatinya.
"Gita.., malam ini kamu tidur di sini aja. Besok pagi aku anterin pulang deh..," kataku.
"Tapi.." jawabnya.

Tanpa basa basi aku ambil gagang telepon dan segera kutelepon rumahnya, dan kusampaikan pada orang tuanya hal tersebut. Segera aku menutup semua pintu rumah, dan membimbingnya masuk ke dalam kamarku. Di sana kami melanjutkan percumbuan yang sejak tadi tidak dapat kutahan.
Kurebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku.., dan.., "Mas.." kudengar lirih suaranya mengharap padaku untuk meneruskan ciuman yang saat itu kuhujamkan ke bagian sela-sela leher dan dagunya.
Aroma tubuh yang menggejolak membuatku semakin panas. Tanganku meraih lipatan kain yang menutupi bagian dadanya, kusibakkan kain tersebut dan kini.. aku melihat dengan jelas dua buah bukit yang padat berisi dengan lembah sekelilingnya berwarna putih.., bersih dan, oh.. sangat menggairahkan.

Entah apa yang dia rasakan.., tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh di bagian depan celanaku, dan ternyata jemari tangannya yang lentik telah mulai menyentuh permukaan penisku yang sejak tadi menegang.
"Aku mau.. menemani kamu malam ini.. tapi, kumohon jangan kau renggut kesucianku sayang.." terdengar pintanya di sela-sela gelora nafsuku yang semakin menjadi.
Aku semakin tidak perduli dengan apa yang dia katakan. Dan tanpa pikir panjang lagi, kulepaskan gaun yang menutupi bagian perutnya ke bawah. Wow.., sungguh pesona yang menajubkan, kulihat CD-nya yang berwarna jingga terasa membias dan menambah semakin tinggi hasratku untuk.. eghghgh. Kutarik CD-nya hingga sempurnalah kini tubuhnya untuk telanjang bulat.

Betapa tidak aku terangsang, tubuh yang putih mulus dan sangat beautiful itu kini tergeletak di hadapanku tanpa sehelai benang. Aku hanya melihat dia memejamkan matanya sambil terdengar isak tangis kecil yang semakin menambah indah malam itu. Seperti terhipnotis.., dia hanya diam saat aku menjilati bagian vaginanya. Aroma khas vagina yang selama ini selalu kudambakan kini telah menyelubungi semua hidungku. Lidahku semakin berani untuk mejulur masuk ke sela-sela liang itu. Tidak lama kemudian kurasakan vagina itu basah oleh cairan yang keluar dari liang itu.
Dan kudengarkan, "Eeefsstt.., Mass.. oughf..!" desisan nafsu dari seorang gadis SMU.

Segera kuatur posisi '69' agar aku pun merasakan hal yang sama. Kira-kira 15 menit kulakukan itu. Kini tibalah untuk penisku yang tegang dari tadi, kini mulai menyentuh bibir luar vagina Gita yang sudah cukup basah dengan cairan. Kuselipkan pelan.. pelan.. masuk ke dalam dan sedikit demi sedikit kurasakan cengkraman otot-otot vaginanya.

Sementara itu .. aku dengarkan lirih .. suara Gita menahan sakit karena tekanan penisku kedalam liang vaginanya. Sesaat kemudian aku benar-benar telah menembus "gawang" keperawanan Gita sambil teriring suara jeritan kecil "Ooohhgfg.. sa..kiit..Mass..", aku pun semakin cepat untuk mengayunkan pinggulku maju mundur .. demi tercapainya kepuasan ..Kira-kira 10 menit aku melakukan gerakan itu. Tiba-tiba aku merasakan denyutan yang semakin keras untuk menarik penisku lebih dalam lagi, dan.. "Terus.., Mas.., terus.. kan..! Ayo.., teruskan.. sedikit lagi.., ayo..!" kudengar pintanya sambil mengikuti gerakan pinggulku yang semakin menjadi.
Dan tidak lama kemudian badan kami berdua menegang sesaat, lalu.., "Seerr..!" terasa spermaku mencair dan keluar memenuhi vagina Gita, kami pun lemas dengan keringat yang semakin membasah di badan.

Kulihat Gita begitu beseri sambil menciumi tubuh dan bibirku.
Dia kemudian berkata, "Cintailah aku selamanya.., agar kau dan aku akan selalu merasakan hal ini.."
Segera kucabut penisku yang masih tenggelam di dalam vaginanya, dan kurasakan hangat serta kulihat merah darah perawannya Gita.

Aku tiba-tiba terbangun, dan kusadari kini Gita telah ada di sampingku sebagai calon isteriku yang sebentar lagi menikah. Kusadari hal itu semua hanyalah.. mimpi yang indah.


ABG Tetangga

Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya.
"Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian", gumamku.

Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. "Sekarang minta jatah..". Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.

Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.
"Selamat sore Om. Tante ada?"
"Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?"
"Wah gimana ya.."
"Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa", kataku ramah.

ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.
"Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu", tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
"Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru.."
"Majalah apa sich?", tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
"Apa saja. Pokoknya yang terbaru".
"Oke silakan masuk dan pilih sendiri".

Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
"Cari sendiri di rak bawah televisi itu", kataku, kemudian membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.

"Nggak ada Om. Ini lama semua", katanya menyentak lamunan nakalku.
"Ngg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana"
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, "inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan".

Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
"Sudah ketemu Ren?" tanyaku.
"Belum Om", jawabnya tanpa menoleh.
"Mau lihat CD bagus nggak?"
"CD apa Om?"
"Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini."

Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
"Film apa sih Om?"
"Lihat saja. Pokoknya bagus", kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
"Ihh..", jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
"Bagus kan?"
"Ini kan film porno Om?!"
"Iya. Kamu suka kan?"
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.

Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
"Kamu ingin begituan nggak?", bisikku di telinganya.
"Jangan Om", katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
"Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo.."
"Tapi.. tapi.. ah jangan Om." Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.
"Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman.."

Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam.

"Ohh.. ahh.. jangan Om", erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.

Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.

"Ahh.." keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
"Enak kan beginian?" tanyaku sambil menatap wajahnya.
"Iii.. iya Om. Tapi.."
"Kamu pengin lebih enak lagi?"

Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.

"Kalau sakit bilang ya", kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.
"Auw.. sakit Om.." Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. "Ouu..", dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.

Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
"Ahh.. ohh.. asshh..", dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku.

"Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?"
"Ouu enak sekali Om.."
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.

Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
"Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?" tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
"Tapi takut Om.."
"Nggak usah takut. Takut apa sih?"
"Hamil"
Aku ketawa. "Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong"
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.

"Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD".
"Kalau ketahuan Tante gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong"
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG tetangga.

Cewek Kostku Tersayang

Namaku adalah Iyo, usiaku 24 tahun, aku tinggal sendiri di sebuah rumah yang cukup besar untuk aku tempati sendiri karena itu rumahku kujadikan tempat kost cewek. Apalagi rumahku letaknya berdekatan dengan universitasku.

Aku menyeleksi semua cewek yang ingin kost di rumahku, mereka harus cantik, seksi dan gaul apalagi kalau wajahnya terlihat nakal, pasti langsung aku terima tinggal disini. Karena itu semua kamar terisi dengan cewek-cewek cantik. Itulah awal percintaanku dengan salah satu cewek kostku.

Yang aku incar adalah Nuke karena dia sangat cantik dan bodynya sangat seksi, wajahnya sangat sensual menurutku, aku jatuh hati saat pertama melihatnya karena itu aku melakukan segala macam cara agar bisa memilikinya, mengantar dia kuliah pakai mobil, membantu menyelesaikan tugas, ajak dia jalan, nonton, shopping, pokoknya kumanjakan dia.

Akhirnya usahaku tak sia-sia, Nuke mulai jatuh hati padaku. Hal itu terjadi saat kami berdua pulang dari menonton bioskop. Tingkah laku Nuke terlihat lain, biasanya dia suka bercanda sampai tertawa ngakak, malam itu di dalam mobil dia tampak pendiam dan sering menatap wajahku lalu tersenyum manis, sebenarnya aku tahu isi hatinya tapi aku pura-pura tidak tau.

"Kamu kenapa Say..? Sakit ya?", tanyaku sok perhatian.
"Oh.. Nggak kok Yang.. Nuke jadi suka aja ngelihat Yayang..", jawabnya polos.

Kemudian kami tersenyum dan terdiam lagi sampai di rumah. Pada waktu jalan dia menggandeng tanganku lembut sampai di kamarnya.

"Udah ya Say, sekarang tidur ya?", kataku sambil beranjak pergi menuju kamarku.
"Yang.. Kenapa ya Nuke kok jadi sayang sama Yayang.." ucapnya sambil memegang tanganku, matanya menatapku penuh harap.
"Ah.. Ngaco kamu, udah tidur sana!", jawabku sok cuek sambil berlalu.
"Yang..! Temani Nuke bentar ya..?", pintanya, aku hanya tersenyum lalu dia menggandengku masuk kamarnya. Setelah kamarnya kukunci, Nuke langsung memelukku.
"Nuke cinta Yayang..", katanya sambil mencium bibirku lembut.

Inilah yang kutunggu, aku membalas pelukannya sambil mencium bibir sensualnya. Lama kelamaan ciuman kami semakin panas, lidah kami saling beradu penuh gairah, tanganku sudah tak tahan ingin meremas buah dadanya yang montok dan kencang itu. Kusandarkan dia di balik pintu, lalu aku memasukkan tanganku ke dalam bajunya, buah dadanya terasa empuk dan lembut saat kuremas meski putingnya sudah mengeras. Nuke tampak sangat menikmati permainan ini, matanya terpejam sambil sekali-kali mendesah nikmat.

Ciumanku mulai turun ke leher jenjangnya, lidahku menyapu tiap jengkal lehernya, tampaknya dia sudah tak tahan lagi saat puting susunya kujilati sambil kugigit lembut, lalu roknya mulai kulepaskan perlahan, tanganku kini mulai meraba-raba gumpalan bulu halus tempiknya sambil terus menjilati susunya, jemariku terasa basah saat kugesek-gesekkan di luar tempiknya, lalu aku jongkok, salah satu kakinya kuangkat dan kusandarkan di bahuku agar aku lebih leluasa menciumi tempiknya, lidahku menyapu klitorisnya sambil sekali-kali kusedot gelambir tempiknya, kakinya terasa bergetar menahan geli nikmat rangsanganku. Cukup lama kurangsang tempiknya dengan mulut dan lidahku, sampai akhirnya tubuhnya bergetar hebat.

"Oh.. Yayang.. Nuke hampir.." bibirnya makin mendesah nggak karuan dan tangannya makin menenggelamkan mukaku ke tempiknya. Lalu terasa banyak cairan kental yang hangat mengalir dan membasahi mulutku, cukup banyak yang tertelan di mulutku. Tampaknya dia mengalami orgasme hebat.

Lalu aku berdiri sambil mengusap mulutku yang basah, Nuke menatapku sambil tersenyum nakal, tangannya melingkar manja di pinggangku, aku makin nafsu melihatnya lalu kugendong dia ke ranjangnya dan kurebahkan tubuhnya. Kulebarkan kedua kakinya lalu aku menindih tubuhnya, Nuke terlihat pasrah hingga membuatku makin bernafsu. Lalu sambil berciuman, kugoyang-goyangkan kontolku sambil kugesek-gesekkan di bibir tempiknya.

Batang kontolku terasa basah dan geli, lalu kuarahkan kontolku ke lubang tempiknya, kusodok pelan-pelan. Terasa sulit untuk memasukinya karena lubangnya sangat sempit, aku terus menggoyang-goyangkan pantatku, terasa nikmat saat helm kontolku masuk ke dalamnya.

"Achh.. Yayang, pelan-pelan.. Sakit yang.." Nuke menjerit tertahan menahan sakit saat kosodok-sodokkan kontolku lebih keras.

Aku memperlambat gerakanku, akhirnya kontolku masuk ke dalam tempiknya sedikit demi sedikit.

"Uhh.. Achh.." desahnya saat seluruh batang kontolku tenggelam, serasa seperti dipijat-pijat dan tersedot masuk ke dalam tempiknya.

Aku makin bernafsu melihat raut wajahnya yang mempesona, keringatku menetes membasahi tubuhnya, makin lama makin cepat sodokan kontolku di dalam tempiknya, suara desahan kami makin keras di kamarnya, tak peduli ada yang mendengar. Kutindih dan kupeluk Nuke sambil kujilati telinganya.

"Oh Yayang.. Nuke mau lagi.. Ahh..", rintihnya.
"Aku juga Say..", balasku.

Saat spermaku terasa menjalar di dalam urat kontolku, gerakanku semakin cepat, akhirnya kami berdua mengalami orgasme bersamaan, spermaku muncrat memenuhi tempiknya, pelukanku makin erat, gerakanku makin melambat, tapi tangan Nuke terus mendorong pantatku agar aku terus bergerak..

"Terus.. Nuke hampir.."

Lalu saat sodokanku kembali kupercepat, Nuke semakin keras meremas pantatku, pahanya makin erat menjepit pinggangku.

"Achh.. Achh..", desahnya saat dia mengalami orgasme kedua kalinya, terasa banyak cairan hangat membasahi kontolku, lalu gerakanku berhenti.

Kupeluk terus dia sambil mencium keningnya, kontolku masih tertanam di tempiknya sampai mengecil dengan sendirinya. Kemudian kulepas perlahan, terasa geli sekali dan kulihat ranjangnya telah basah oleh cairan kami berdua. Dan terlihat ada noda merah darah di ranjang itu, kutatap wajahnya, tak ada raut penyesalan di sana.

"Nuke udah nggak perawan lagi Yang.. Jangan tinggalin Nuke ya..", pintanya padaku.
"Nggak mungkin aku tinggalin kamu Say, aku cinta kau..", batinku. Lalu kami berdua tidur sambil berpelukan, aku bermimpi indah sampai pagi tiba..

Tak terasa matahari sudah terbit, hari sudah mulai siang, dan kulihat Nuke masih tidur pulas di sampingku sambil memelukku. Wajahnya tampak mempesona dan cantik sekali pagi itu. Aku sangat beruntung bisa memilikinya. Lalu kukecup lembut keningnya. Aku tak mau membangunkannya, jadi kutunggu saja sampai dia terbangun. Akhirnya tidak berapa lama Nuke terbangun dan menggeliat, kemudian dia menatapku.

"Met pagi Say..", katanya manja sambil menciumku.
"Ihh bauu.. Sana mandi dulu..", jawabku bercanda.
"Gak mau kalau nggak Yayang mandiin", balasnya genit.

Lalu kugendong dia ke kamar mandi di dalam kamarnya. Lalu kami berdua mandi bersama. Saat kusiram tubuhnya dengan air dingin, Nuke tampak menggigil dan memelukku lagi.

"Yayang.. Dingin nih.. Ntar aja mandinya ya..", pintanya manja.

Lalu dia mulai merangsangku lagi, puting susuku dijilati dan tangannya mulai nakal meremas kontolku yang masih tidur. Lidahnya berputar-putar mengelilingi puting susuku, rasanya benar-benar nikmat sekali. Makin lama kontolku mulai tegak lagi karena tak tahan menahan rangsangannya. Ketika tanganku ingin meremas buah dadanya, Nuke langsung menepisnya..

"Nggak boleh.. Aku mau puasin Yayang dulu..". katanya.

Lalu ciumannya perlahan mulai turun ke perut dan pinggangku, benar-benar geli dan nikmat sekali. Aku cuma bersandar di dinding menikmati rangsangannya. Lama kelamaan bibirnya mulai turun kearah kontolku, perlahan dijilatinya mulai pangkal sampai helmnya. Aku benar-benar dimanja oleh sentuhannya yang begitu lembut. Sekali-kali matanya menatapku nakal, aku benar-benar tak tahan dibuatnya. Kontolku terus dikulum sambil dikocok perlahan.

"Ahh udah say.. Sini gantian..", bisikku lirih.

Lalu kubalikkan badannya membelakangiku dan aku jongkok di belakangnya, langsung saja kujilati vaginanya, baunya begitu harum khas wanita, kujilati perlahan sambil sesekali lidahku masuk ke dalamnya. Nuke mulai mendesah..

"Oh.. Yayang..", aku semakin bersemangat merangsang klitorisnya, tanganku juga meremas pantatnya yang membulat bersih. Lalu jilatanku mulai naik ke lubang pantatnya..

"Ihh geli Yang..", desahnya sambil tertawa kecil, jemariku kini mulai kumasukkan ke dalam vaginanya dan kuputar perlahan sehingga menimbulkan sensasi pada tubuhnya. Getaran kakinya mulai terasa dan desahnya mulai tidak karuan.

"Oohh.. Achh", lalu aku berdiri dan kontolku kini mulai kugesek-gesekkan di bibir vaginanya. Kumasukkan perlahan dan kugoyangkan pelan-pelan, kami sangat menikmati permainan yang lembut ini.

Akhirnya kontolku benar-benar terbenam seluruhnya di dalam vaginanya, tanganku terus meremas-remas pantatnya. Nukepun juga ikut bergerak maju mundur seirama dengan gerakanku. Lalu saat gerakan kupercepat, Nuke tampak sudah tak tahan menghadapi gempuranku, tubuhnya mulai bergetar dan desahnya makin keras di dalam kamar mandi. Orgasmenya mulai mengalir membasahi kontolku, begitu basah dan hangat terasa, lalu kurasakan spermaku mulai mengalir di dalam batang kontolku dan gerakanku makin cepat menyodok tempiknya. Akhirnya sperma telah berada di ujung kontolku dan ketika akan kutarik keluar, Nuke menahannya..

"Yayang, dikeluarin di dalam saja.."

Akhirnya aku tak jadi menarik kontolku dan melanjutkan sodokanku, lalu spermaku muncrat membasahi vaginanya. Mataku terpejam menikmati orgasme yang begitu hebat itu. Akhirnya saat permainan telah selesai, kupeluk dan kukecup lembut keningnya, lalu kami berdua meneruskan mandi sambil saling membasuh tubuh dan bercanda.

Gairah Bapak Kost

Pagi itu kulihat Oom Pram sedang merapikan tanaman di kebun, dipangkasnya daun-daun yang mencuat tidak beraturan dengan gunting. Kutatap wajahnya dari balik kaca gelap jendela kamarku. Belum terlalu tua, umurnya kutaksir belum mencapai usia 50 tahun, tubuhnya masih kekar wajahnya segar dan cukup tampan. Rambut dan kumisnya beberapa sudah terselip uban. Hari itu memang aku masih tergeletak di kamar kostku. Sejak kemarin aku tidak kuliah karena terserang flu. Jendela kamarku yang berkaca gelap dan menghadap ke taman samping rumah membuatku merasa asri melihat hijau taman, apalagi di sana ada seorang laki-lai setengah baya yang sering kukagumi. Memang usiaku saat itu baru menginjak dua puluh satu tahun dan aku masih duduk di semester enam di fakultasku dan sudah punya pacar yang selalu rajin mengunjungiku di malam minggu. Toh tidak ada halangan apapun kalau aku menyukai laki-laki yang jauh di atas umurku.

Tiba-tiba ia memandang ke arahku, jantungku berdegup keras. Tidak, dia tidak melihaku dari luar sana. Oom Pram mengenakan kaos singlet dan celana pendek, dari pangkal lengannya terlihat seburat ototnya yang masih kecang. Hari memang masih pagi sekitar jam 9:00, teman sekamar kostku telah berangkat sejak jam 6:00 tadi pagi demikian pula penghuni rumah lainnya, temasuk Tante Pram istrinya yang karyawati perusahaan perbankan.

Memang Oom Pram sejak 5 bulan terakhir terkena PHK dengan pesangon yang konon cukup besar, karena penciutan perusahaannya. Sehingga kegiatannya lebih banyak di rumah. Bahkan tak jarang dia yang menyiapkan sarapan pagi untuk kami semua anak kost-nya. Yaitu roti dan selai disertai susu panas. Kedua anaknya sudah kuliah di luar kota. Kami anak kost yang terdiri dari 6 orang mahasiswi sangat akrab dengan induk semang. Mereka memperlakukan kami seperti anaknya. Walaupun biaya indekost-nya tidak terbilang murah, tetapi kami menyukainya karena kami seperti di rumah sendiri. Oom Pram telah selesai mengurus tamannya, ia segera hilang dari pemandanganku, ah seandainya dia ke kamarku dan mau memijitku, aku pasti akan senang, aku lebih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari obat-obatan. Biasanya ibuku yang yang mengurusku dari dibuatkan bubur sampai memijit-mijit badanku. Ah.. andaikan Oom Pram yang melakukannya..

Kupejamkan mataku, kunikmati lamunanku sampai kudengar suara siulan dan suara air dari kamar mandi. Pasti Oom Pram sedang mandi, kubayangkan tubuhnya tanpa baju di kamar mandi, lamunanku berkembang menjadi makin hangat, hatiku hangat, kupejamkan mataku ketika aku diciumnya dalam lamunan, oh indahnya. Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarku, segera kutarik selimut yang sudah terserak di sampingku. "Masuk..!" kataku. Tak berapa lama kulihat Oom Pram sudah berada di ambang pintu masih mengenakan baju mandi. Senyumnya mengambang "Bagaimana Lina? Ada kemajuan..?" dia duduk di pinggir ranjangku, tangannya diulurkan ke arah keningku. Aku hanya mengangguk lemah. Walaupun jantungku berdetak keras, aku mencoba membalas senyumnya. Kemudian tangannya beralih memegang tangan kiriku dan mulai memjit-mijit.

"Lina mau dibikinkan susu panas?" tanyanya.
"Terima kasih Oom, Lina sudah sarapan tadi," balasku.
"Enak dipijit seperti ini?" aku mengangguk.VDia masih memijit dari tangan yang kiri kemudian beralih ke tangan kanan, kemudian ke pundakku. Ketika pijitannya berpindah ke kakiku aku masih diam saja, karena aku menyukai pijitannya yang lembut, disamping menimbulkan rasa nyaman juga menaikkan birahiku. Disingkirkannya selimut yang membungkus kakiku, sehingga betis dan pahaku yang kuning langsat terbuka, bahkan ternyata dasterku yang tipis agak terangkat ke atas mendekati pangkal paha, aku tidak mencoba membetulkannya, aku pura-pura tidak tahu.

"Lin kakimu mulus sekali ya."
"Ah.. Oom bisa aja, kan kulit Tante lebih mulus lagi," balasku sekenanya.
Tangannya masih memijit kakiku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lama-lama kurasakan tangannya tidak lagi memijit tetapi mengelus dan mengusap pahaku, aku diam saja, aku menikmatinya, birahiku makin lama makin bangkit.
"Lin, Oom jadi terangsang, gimana nih?" suaranya terdengar kalem tanpa emosi.
"Jangan Oom, nanti Tante marah.."
Mulutku menolak tapi wajah dan tubuhku bekata lain, dan aku yakin Oom Pram sebagai laki-laki sudah matang dapat membaca bahasa tubuhku. Aku menggelinjang ketika jari tangannya mulai menggosok pangkal paha dekat vaginaku yang terbungkus CD. Dan.. astaga! ternyata dibalik baju mandinya Oom Pram tidak mengenakan celana dalam sehingga penisnya yang membesar dan tegak, keluar belahan baju mandinya tanpa disadarinya. Nafasku sesak melihat benda yang berdiri keras penuh dengan tonjolan otot di sekelilingnya dan kepala yang licin mengkilat. Ingin rasanya aku memegang dan mengelusnya. Tetapi kutahan hasratku itu, rasa maluku masih mengalahkan nafsuku.

Oom Pram membungkuk menciumku, kurasakan bibirnya yang hangat menyentuh bibirku dengan lembut. Kehangatan menjalar ke lubuk hatiku dan ketika kurasakan lidahnya mencari-cari lidahku dan maka kusambut dengan lidahku pula, aku melayani hisapan-hisapannya dengan penuh gairah. Separuh tubuhnya sudah menindih tubuhku, kemaluannya menempel di pahaku sedangkan tangan kirinya telah berpindah ke buah dadaku. Dia meremas dadaku dengan lembut sambil menghisap bibirku. Tanpa canggung lagi kurengkuh tubuhnya, kuusap punggungnya dan terus ke bawah ke arah pahanya yang penuh ditumbuhi rambut. Dadaku berdesir enak sekali, tangannya sudah menyelusup ke balik dasterku yang tanpa BH, remasan jarinya sangat ahli, kadang putingku dipelintir sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.

Nafasku makin memburu ketika dia melepas ciumannya. Kutatap wajahnya, aku kecewa, tapi dia tersenyum dibelainya wajahku.
"Lin kau cantik sekali.." dia memujaku.
"Aku ingin menyetubuhimu, tapi apakah kamu masih perawan..?" aku mengangguk lemah.
Memang aku masih perawan, walaupun aku pernah "petting" dengan kakak iparku sampai kami orgasme tapi sampai saat ini aku belum pernah melakukan persetubuhan. Dengan pacarku kami sebatas ciuman biasa, dia terlalu alim untuk melakukan itu. Sedangkan kebutuhan seksku selama ini terpenuhi dengan mansturbasi, dengan khayalan yang indah. Biasanya dua orang obyek khayalanku yaitu kakak iparku dan yang kedua adalah Oom Pram induk semangku, yang sekarang setengah menindih tubuhku. Sebenarnya andaikata dia tidak menanyakan soal keperawanan, pasti aku tak dapat menolak jika ia menyetubuhiku, karena dorongan birahiku kurasakan melebihi birahinya. Kulihat dengan jelas pengendalian dirinya, dia tidak menggebu dia memainkan tangannya, bibirnya dan lidahnya dengan tenang, lembut dan sabar. Justru akulah yang kurasakan meledak-ledak.

"Bagaimana Lin? kita teruskan?" tangannya masih mengusap rambutku, aku tak mampu menjawab.
Aku ingin, ingin sekali, tapi aku tak ingin perawanku hilang. Kupejamkan mataku menghindari tatapanbya.
"Oom.. pakai tangan saja," bisikku kecewa.
Tanpa menunggu lagi tangannya sudah melucuti seluruh dasterku, aku tinggal mengenakan celana dalam, dia juga telah telanjang utuh. Seluruh tubuhnya mengkilat karena keringat, batang kemaluannya panjang dan besar berdiri tegak. Diangkatnya pantatku dilepaskannya celana dalamku yang telah basah sejak tadi. Kubiarkan tangannya membuka selangkanganku lebar-lebar. Kulihat vaginaku telah merekah kemerahan bibirnya mengkilat lembab, klitorisku terasa sudah membesar dan memerah, di dalam lubang kemaluanku telah terbanjiri oleh lendir yang siap melumasi, setiap barang yang akan masuk.

Oom Pram membungkuk dan mulai menjilat dinding kiri dan kanan kemaluanku, terasa nikmat sekali aku menggeliat, lidahnya menggeser makin ke atas ke arah klitosris, kupegang kepalanya dan aku mulai merintih kenikmatan. Berapa lama dia menggeserkan lidahnya di atas klitosriku yang makin membengkak. Karena kenikmatan tanpa terasa aku telah menggoyang pantatku, kadang kuangkat kadang ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba Oom Pram melakukan sedotan kecil di klitoris, kadang disedot kadang dipermainkan dengan ujung lidah. Kenikmatan yang kudapat luar biasa, seluruh kelamin sampai pinggul, gerakanku makin tak terkendali, "Oom.. aduh.. Oom.. Lin mau keluar.." Kuangkat tinggi tinggi pantatku, aku sudah siap untuk berorgasme, tapi pada saat yang tepat dia melepaskan ciumannya dari vagina. Dia menarikku bangun dan menyorongkan kemaluannya yang kokoh itu kemulutku. " Gantian ya Lin.. aku ingin kau isap kemaluanku." Kutangkap kemaluannya, terasa penuh dan keras dalam genggamanku. Oom Pram sudah terlentang dan posisiku membungkuk siap untuk mengulum kelaminnya. Aku sering membayangkan dan aku juga beberapa kali menonton dalam film biru. Tetapi baru kali inilah aku melakukannya.

Birahiku sudah sampai puncak. Kutelusuri pangkal kemaluannya dengan lidahku dari pangkal sampai ke ujung penisnya yang mengkilat berkali-kali. "Ahh.. Enak sekali Lin.." dia berdesis. Kemudian kukulum dan kusedot-sedot dan kujilat dengan lidah sedangkan pangkal kemaluannya kuelus dengan jariku. Suara desahan Oom Pram membuatku tidak tahan menahan birahi. Kusudahi permainan di kelaminnya, tiba-tiba aku sudah setengah jongkok di atas tubuhnya, kemaluannya persis di depan lubang vaginaku. "Oom, Lin masukin dikit ya Oom, Lin pengen sekali." Dia hanya tersenyum. "Hati-hati ya.. jangan terlalu dalam.." Aku sudah tidak lagi mendengar kata-katanya. Kupegang kemaluannya, kutempelkan pada bibir kemaluanku, kusapu-sapukan sebentar di klitoris dan bibir bawah, dan.. oh, ketika kepala kemaluanya kumasukan dalam lubang, aku hampir terbang. Beberapa detik aku tidak berani bergerak tanganku masih memegangi kemaluannya, ujung kemaluannya masih menancap dalam lubang vaginaku. Kurasakan kedutan-kedutan kecil dalam bibir bawahku, aku tidak yakin apakah kedutan berasal dariku atau darinya.

Kuangkat sedikit pantatku, dan gesekan itu ujung kemaluannya yang sangat besar terasa menggeser bibir dalam dan pangkal klitoris. Kudorong pinggulku ke bawah makin dalam kenikmatan makin dalam, separuh batang kemaluannya sudah melesak dalam kemaluanku. Kukocokkan kemaluannya naik-turun, tidak ada rasa sakit seperti yang sering aku dengar dari temanku ketika keperawanannya hilang, padahal sudah separuh. Kujepit kemaluannya dengan otot dalam, kusedot ke dalam. Kulepas kembali berulang-ulang. "Oh.. Lin kau hebat, jepitanmu nimat sekali." Kudengar Oom Pram mendesis-desis, payudaraku diremas-remas dan membuat aku merintih-rintih ketika dalam jepitanku itu. Dia mengocokkan kemaluannya dari bawah. Aku merintih, mendesis, mendengus, dan akhirnya kehilangan kontrolku. Kudorong pinggulku ke bawah, terus ke bawah sehingga penis Oom Pram sudah utuh masuk ke vaginaku, tidak ada rasa sakit, yang ada adalah kenikmatan yang meledak-ledak.Dari posisi duduk, kurubuhkan badanku di atas badannya, susuku menempel, perutku merekat pada perutnya. Kudekap Oom Pram erat-erat. Tangan kiri Oom Pram mendekap punggungku, sedang tangan kanannya mengusap-usap bokongku dan analku. Aku makin kenikmatan. Sambil merintih-rintih kukocok dan kugoyang pinggulku, sedang kurasakan benda padat kenyal dan besar menyodok-nyodok dari bawah.

Tiba-tiba aku tidak tahan lagi, kedutan tadinya kecil makin keras dan akhirnya meledak. "Ahh.." Kutekan vaginaku ke penisnya, kedutannya keras sekali, nimat sekali. Dan hampir bersamaan dari dalam vagina terasa cairan hangat, menyemprot dinding rahimku. "Ooohh.." Oom Pram juga ejakulasi pada saat yang bersamaan. Beberapa menit aku masih berada di atasnya, dan kemaluannya masih menyesaki vaginaku. Kurasai vaginaku masih berkedut dan makin lemah. Tapi kelaminku masih menyebarkan kenikmatan. Pagi itu keprawananku hilang tanpa darah dan tanpa rasa sakit. Aku tidak menyesal.

kenakalan Remaja 01: Kembang Perawan

Meskipun awalnya ragu, akhirnya Nisa mau juga masuk ke rumah Faris. Dadanya berdegup kencang karena ini adalah kali pertama ia main ke rumah teman prianya. Kamu tentu tahu Madrasah ‘Aliyah tempat mereka berdua bersekolah melarang hubungan lawan jenis seperti ini. Seperti halnya perintah tegas Sekolah kepada setiap siswi untuk mengenakan jilbab.

Tapi Nisa tak bisa menolak ajakan teman yang ia sukai itu. Dua tahun sudah mereka saling mengenal, sejak keduanya sama-sama duduk di bangku kelas satu. Dan perasaan suka itu muncul di hati Nisa tak lama setelah pertemuan pertamanya. Kalau tidak karena Faris memberi sinyal yang sama, Nisa tentu sudah melupakan perasaannya. Tapi cowok itu terus saja bersikap spesial kepadanya, hingga cinta jarak jauh mereka terjalin erat meski tanpa kontak fisik.

Lalu tiga bulan yang lalu saat menjelang Ujian Akhir Sekolah. Kelas pria dan wanita yang biasanya terpisah mulai digabung di beberapa kesempatan karena alasan peningkatan intensitas pelajaran. Siswa putra duduk di barisan depan, sedang yang putri di bagian belakang. Tapi Faris duduk di barisan putra paling belakang sedang Nisa di barisan putri paling depan. Maka tak ayal Faris berada tepat di depan Nisa. Dan itulah awal kontak terdekat yang terjadi pada mereka.

Biasalah… Awalnya pura-pura pinjam alat tulis, tanya buku, ini… itu… Tapi senyuman makin sering tertukar dan kontak batin terjalin dengan pasti. Kadang ada alasan bagi keduanya untuk tidak keluar buru-buru saat istirahat, hingga ada masa singkat ketika mereka hanya berdua di dalam kelas; tanya-tanya pelajaran—alasan basi yang paling disukai setiap orang.

Dua bulan lebih dari cukup untuk memupuk rasa cinta. Meski pacaran adalah terlarang, dan keduanya belum pernah saling mengutarakan cinta, tapi semua teman mereka tahu keduanya adalah sepasang kekasih. Hubungan cinta yang unik di jaman yang serba bebas ini. Dan Nisa begitu menikmati perasaannya. Setiap waktu teramat berharga. Sekilas tatapan serta seulas senyuman selalu menjadi bagian yang menyenangkan.

Lalu cinta mulai berkembang saat kenakalan muncul perlahan-lahan. Nisa sempat ragu saat Faris memintanya untuk datang ke Mall M sepulang sekolah sore itu. Sejuta perasaan bahagia membuncah di hati Nisa, bercampur dengan rasa takut dan kegugupan yang luar biasa. Ia nyaris pulang lagi saat sore itu ia berdiri di pintu Mall untuk bertemu dengan Faris. Tapi cowok itu keburu melihatnya hingga ia tak dapat menghindar lagi. Ia tahu bahwa dirinya salah tingkah selama kencan pertama mereka.

Malamnya Nisa tak bisa tidur. Membayangkan tentang betapa menyenangkannya kencan mereka, saat untuk pertama kalinya Faris menggenggam tangannya selama berkeliling melihat-lihat banyak hal. Seluruh tubuhnya terasa panas dingin. Faris bahkan membelikan sebuah hadiah berupa kalung mutiara yang sangat mahal untuk ukuran dirinya. Untaian mutiara itu sangat indah, putih memancarkan kilau yang terang. Cowok itu berkata, “Walaupun aku tak akan dapat melihatmu mengenakan kalung itu, kuharap kamu mau tetap mengenakannya.” Dan tentu saja ia senantiasa mengenakan kalung mutiara itu.

Satu bulan itu dihiasi dengan kencan sembunyi-sembunyi yang sangat mendebarkan. Seperti bermain kucing-kucingan dengan semua orang yang Nisa kenal. Kalau ada satu saja orang yang tahu Nisa berduaan dengan seorang pria di Mall, maka Nisa tak dapat membayangkan petaka apa yang akan menimpanya. Tapi berhenti dari melakukan itu ia yakini lebih mengerikan daripada terus menjalaninya. Karena, di sore itu, di satu sudut yang sepi di dalam Mall, tiba-tiba saja Faris mencium pipinya dengan cepat tanpa mengatakan apapun juga. Hanya sekilas, dan Faris membuat seolah-olah itu tak pernah terjadi. Tapi pengaruhnya sangat besar pada diri Nisa. Karena seluruh perasaannya bergemuruh dan membuncah. Bercampur aduk hingga ia hanya bisa diam saja seperti orang bodoh. Sisa sore itu berlalu tanpa ada dialog apapun, karena Nisa tahu wajah putihnya telah berubah semerah udang rebus. Meninggalkan kesan terindah yang terbawa ke dalam mimpi bermalam-malam sesudahnya.

Tiga hari sejak peristiwa itu Nisa selalu berusaha menghindar dari Faris. Ia merasa malu, bingung dan takut. Bagaimanapun juga satu sisi perasaannya masih memiliki keyakinan bahwa cinta mereka mulai melewati batas. Tapi ia belum tahu cara kerja nafsu. Karena ketika akhirnya mereka bertemu kembali, Nisa tak bisa menolak saat di banyak kesempatan Faris mencium pipinya berkali-kali; kanan dan kiri. Bahkan, saat Faris semakin nakal dengan meremas tangannya, memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya (meski semua itu dilakukan Faris tak lebih dari lima detik saja), Nisa hanya terpana dan sangat menikmati semuanya. Sebelum berpisah, Faris berbisik pelan kepadanya, “Kamu mau, kan, main ke rumah esok sore?”

Anehnya, seperti seorang yang terhipnotis, Nisa mengangguk…



Maka, sore itu, dengan mengenakan gamis bercorak ceria khas remaja dengan hiasan renda bunga melati, dipadukan dengan jilbab pink yang disemati bros berbentuk kupu-kupu, juga sebuah tas jinjing dari kain kanvas, Nisa duduk di sofa ruang tamu di rumah Faris. Menunggu kekasihnya mengambilkan dua gelas jeruk dingin dan sepiring buah-buahan segar. Matanya menatap ke sekeliling ruangan dan mendapatkan kesan yang sangat menyenangkan.

Kesan itu didapat, sebagian karena bagaimanapun ini adalah rumah orang yang ia cintai, dan sebagiannya lagi karena pemiliknya memiliki cukup banyak uang untuk menata dengan demikian indahnya. Nisa tak tahu banyak soal dekorasi, tapi sesungguhnya rumah itu memang didesain dengan nuansa klasik yang sesuai dengan alam pegunungan tempat rumah itu berdiri. Perabotan, dari mulai lampu-lampu, tempat duduk, meja, lukisan-lukisan serta berbagai hal didominasi oleh corak bambu dan kayu asli. Sementara dedaunan dan tanaman hijau—bercampur antara imitasi dan buatan—menghiasi sudut-sudut yang tepat. Air terjun buatan dibangun di samping ruang tamu, dengan cahaya matahari yang hangat menyinari dari kaca jendela samping. Wilayah itu ditutup oleh kaca bening yang dialiri air dari atas, sehingga mengesankan suasana hujan yang indah dan menimbulkan bunyi gemericik air yang terdengar menyenangkan.

Lukisan pedesaan dipasang di satu sudut yang tepat bagi pandangan mata, dengan gaya naturalis hingga setiap detail nampak sangat jelas. Seperti sebuah foto namun memancarkan aura magis yang lebih kentara. Nisa sempat terpana dengan semuanya, dengan kesejukan yang melingkupi seluruh dirinya, sampai ia tak sadar kalau Faris telah duduk di sebelahnya, sedang menata gelas dan piring-piring.

“Maaf, ya… Seadanya. Habisnya Umi lagi ke Bandung ikut seminar, nemenin Abi…”

Nisa tersipu malu. Ia berasal dari keluarga yang lebih sederhana, sehingga rasa mindernya muncul saat mendapati rumah yang demikian besar dan mewah ini ternyata milik pacarnya.

“Nggak apa-apa, Ris. Nisa seneng, kok…” Nisa merasakan suaranya tercekat di tenggorokan.

Sore itu Nisa lalui dengan sangat menyenangkan. Ngobrol berdua, bercanda, tertawa, nonton film, main game PS hingga makan malam. Nisa baru tahu bahwa ternyata Faris bisa memasak. Pintar malah. Kelezatan rasanya melebihi masakan yang pernah ia buat. Dengan malu ia mengakui itu di hadapan kekasihnya, yang membalasnya dengan ciuman pipi kanan yang lembut.

“Aku tetep sayang kamu, kok…”

Perlu diketahui bahwa Nisa saat itu berusia 16 tahun dan memiliki tubuh yang mulai matang sebagai seorang gadis. Posturnya juga tinggi dengan wajah manis yang terkesan keibuan. Tapi percayalah bahwa ia sangat polos, lebih polos dari gadis SD di kota besar yang telah mahir urusan peluk dan cium. Desa tempat ia tinggal sangat jauh dari arus informasi dan pengaruh buruk ibukota. Maka ia tak menaruh prasangka apapun saat Faris mengajaknya menginap di rumahnya malam itu. Memang ini urusan yang tabu di desanya, tapi kepolosan Nisa membuatnya yakin bahwa Faris tak akan melakukan hal buruk terhadapnya. Sehingga, pilihan berbohong ia lakukan agar bisa berduaan terus dengan kekasihnya. Ia telah bilang pada orang rumah bahwa ia akan menginap di rumah Ririn. Ia tahu orang tuanya tak akan curiga, karena hal itu biasa ia lakukan di waktu-waktu ujian sekolah. Apalagi menjelang Ujian Akhir seperti sekarang.

Suasana malam sangat sunyi dan suara jengkerik telah berganti dengan burung malam. Tak berapa lama rintik hujan mulai turun, dan Nisa tak menyadarinya sampai hujan itu berubah jadi deras. Sangat deras, karena di musim penghujan seperti ini hal seperti itu selalu saja terjadi. Kalau tidak karena suasana cinta yang tengah meliputinya, Nisa tak akan betah di rumah orang dalam situasi seperti itu.

O, iya… Sebetulnya Nisa dan Faris tidak benar-benar berdua di rumah, karena ada Hana, adik perempuan Faris yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SMP. Makanya Nisa tidak terlalu merasa sungkan, karena ia bisa bermain dengan Hana juga di sepanjang sore dan malam itu. Farislah yang agak kerepotan karena harus meminta Hana agar berjanji tidak memberitahukan keberadaan Nisa kepada orang tua mereka. Hana sebetulnya tidak susah dibujuk. Hanya saja keberadaannya menyulitkan karena ciuman-ciuman harus dilakukan secara hati-hati.

Peluk dan cium beberapa waktu yang lalu memang mendapatkan perlawanan (meski setengah hati) dari Nisa. Tapi hal itu tak berlaku malam ini, karena kini Nisa merasa lebih santai dan bebas. Di satu kesempatan Faris memeluknya sembari mencium bibirnya sekilas. Di kesempatan lain ia dipeluk dari belakang, tepatnya saat ia mencuci piring bekas makan malam dan pria itu mengendap-endap dari belakang dan begitu saja melingkarkan tangan di pinggangnya. Nisa sempat menjerit pelan dan berusaha meronta, tapi tangannya yang memegang piring dipenuhi busa sabun hingga susah untuk bergerak. Ia hanya menggelinjang pelan dan merengek lemah, saat pelukan itu makin erat dan ciuman di pipinya membuatnya terbius. Hampir saja Hana melihat perbuatan mereka, kalau Faris tidak buru-buru melepaskan pelukan di pinggang yang ramping itu.

Setelah mandi malam yang menyenangkan, di dalam bath-tub air hangat yang penuh busa dan peralatan mandi yang lengkap milik Umi Faris, Nisa bergabung dengan kakak beradik di ruang TV. Ia mengenakan busana malam yang lebih santai (setidaknya untuk ukuran gadis berjilbab); kemeja kaus lengan panjang putih bermotif garis warna biru dengan bawahan rok katun berwarna biru lembut, dipadukan jilbab simpel berwarna biru senada. Parfum aroma bunga khas remaja ia seprotkan di tempat-tempat yang tepat untuk menyegarkan dirinya. Lalu ia duduk di samping Hana yang sedang tertawa menyaksikan film kartun di televisi.

Mata Nisa saat itu tertuju penuh ke televisi, namun pikirannya terbang ke alam tertinggi yang penuh imajinasi. Pelukan dan ciuman hangat dari Faris mau tak mau membangkitkan gairah terpendam yang selama ini tersembuyi jauh di dasar jiwanya. Ia mengalami semacam sensasi aneh yang baru dikenalnya, yang sangat memabukkan dan membuatnya lupa diri. Jam baru pukul delapan malam namun kegelisahannya telah memuncak.

Nisa tak tahu—atau mungkin tak berani mengakui—bahwa dirinya telah dipenuhi sensasi seks yang menyenangkan. Terlebih ini adalah masa-masa suburnya. Letupan-letupan kecil yang dipicu oleh Faris membuatnya perlahan-lahan tebawa ke arus deras, hingga sulit terbendung oleh keremajaannya yang sedang membara. Penghalang dirinya untuk melakukan hal-hal yang lebih seronok adalah rasa malu, takut serta ketidaktahuan yang besar tentang kondisi-kondisi semacam ini. Tapi pancingan-pancingan yang dilakukan oleh Faris dengan lihai membawanya pada pengalaman-pengalaman terlarang yang sangat menggairahkan. Semuanya akibat kepolosan sang gadis remaja.

Jam delapan lewat dua puluh menit Faris bangkit dari duduknya dan menarik tangan Nisa agar mengikutinya. Hana tak sadar karena ia terfokus pada acara televisi. Nisa menurut dan dadanya berdebar kencang saat Faris menariknya ke lantai dua. Kalau Nisa sedikit lebih gaul, ia akan tahu Faris bermaksud melakukan sesuatu, tapi Nisa jauh lebih polos dari yang orang kira, hingga ia justru merasa senang saat Faris mengajaknya untuk melihat-lihat kamarnya. Ia senang bisa tahu isi dalam kamar kekasih yang ia cintai.

Nisa kagum pada suasana kamar Faris yang menyenangkan. Ia juga terkejut saat menemukan foto dirinya dalam pose separuh badan terpampang di dinding kamar. Foto itu ditutupi Faris oleh poster pemain bola, hingga tidak ada yang tahu bila setiap malam ia menarik poster itu dan memandangi foto gadis yang tersenyum manis di sana.

Nisa setengah lupa tentang kapan ia membuat foto itu. Ia merasa foto itu lebih cantik dari aslinya. Tapi Faris menjelaskan bahwa program komputer photoshop dapat melakukan banyak hal, seperti membuat gadis secantik dirinya terlihat lebih segar dan mempesona. Nisa tersipu malu. Tapi itu belum seberapa, karena tiba-tiba Faris menarik dirinya agar berhadapan, lalu mengeluarkan sepasang anting mutiara dari kotak beludru di saku celananya. Nisa terperanjat. Faris berbisik mesra,

“Ini pasangan kalung yang pernah kuberikan. Aku mau kamu mengenakannya…”

Mata Nisa berkaca-kaca. Kalau saja ia berani, ia sudah memeluk pria di hadapannya dan menciumnya bertubi-tubi. Tapi ia terlalu malu untuk melakukan hal semacam itu. Ia hanya salah tingkah, saat Faris meletakkan anting-anting itu di telapak tangannya dan berkata lagi,

“Aku pasangkan sekarang, ya…”

“Tapi…” Suara Nisa serak dan lirih.

“Tapi kenapa?”

“Nisa malu…”

“Kok malu? Bukankah kita saling mencintai?! Masihkah kita saling tertutup?”

Nisa bingung untuk menjawab, karena ini adalah momen pertama dalam hidupnya ketika ia harus membuka jilbabnya di hadapan seorang laki-laki. Wanita-wanita yang biasa berbikini di kolam renang atau berpakaian seksi di Mall-mall tentu tak akan paham kenyataan ini. Tapi Nisa adalah perempuan yang sejak belasan tahun lalu selalu menutup seluruh bagian tubuhnya dan tak memamerkannya pada siapapun kecuali keluarganya. Melepas jilbab baginya sama seperti melepas rok di depan kamera bagi gadis keumuman.

Aneh? Memang! Tapi itulah kenyataannya. Ia setengah menangis saat tak kuasa menolak permintaan Faris yang menyudutkan itu. Ia memang diam. Tapi dadanya bergemuruh hebat saat jemari Faris melepasi jarum dan peniti yang menyemati jilbabnya. Ia tertunduk dalam dan menahan nafas saat tangan kekasihnya menarik lepas jilbabnya. Tangannya yang gemetar meremas-remas ujung kaus, dan tanpa sadar ia menggigit bibirnya sendiri saat Faris menarik dagunya agar mereka bisa saling bertatapan serta membelai rambutnya dengan mesra; rambut yang hitam lurus sepanjang bahunya.

“Kamu cantik sekali, Nisa…” Suara itu terdengar lirih, dan Nisa hanya terpejam menahan semua perasaannya. Itu adalah ekspresi terbodoh yang pernah ia lakukan, atau justru yang terbaik, karena semuanya mendorong Faris untuk mengecup bibirnya dengan lembut. Ciuman hangat dan penuh cinta, membawa Nisa terbang tinggi dan melupakan dunia ini.

“Mmmh…”

Nisa hanya terpejam pasrah. Tubuhnya gemetar hebat. Tapi mulutnya terbuka lebar saat lidah Faris mulai menjulur dan menggelitiki rongga mulutnya. Lidahnya ikut bergerak meski masih sangat kaku, saling menggelitiki untuk mendapatkan sensasi aneh yang sempurna. Tangannya begitu saja memeluk lengan Faris yang kokoh, yang saat itu tengah melingkarkannya di pinggangnya sendiri.

Waktu seakan berhenti. Dan keduanya terpaku seperti sepasang patung sihir. Hanya helaan nafas yang terdengar di sela-sela ciuman membara dan dipenuhi gelora cinta. Kedua tubuh itu merapat dan saling bergesekan, seakan tak dapat terpisahkan. Saling memberikan rasa hangat yang aneh dan membangkitkan seluruh saraf yang tertidur. Keduanya baru berhenti ketika nafas mulai habis dan terengah-engah kelelahan. Nisa kaget dan merasa malu sekali. Mulutnya basah akibat ciuman panas itu. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain menanti yang terjadi selanjutnya. Ia membiarkan Faris memasang anting-anting di kedua telinganya. Ia menahan rasa geli saat jari jemari Faris seakan menggelitik kedua telinganya, dan menurut saja ketika pria itu menuntunya ke hadapan cermin besar.

“Lihat… Kamu cantik sekali..”

Nisa melihat sekilas ke cermin, menyaksikan dirinya sendiri tanpa jilbab, dengan dihiasi anting-anting dan kalung mutiara dari kekasihnya. Ia merengek manja dan menutup muka dengan telapak tangannya. “Aah… Faris jahat… Nisa malu…”

“Malu sama siapa?”

Mereka bercanda dengan mesra dan lebih hangat. Ciuman tadi telah menyingkapkan tabir kekakuan yang telah terbentuk selama ini. Mereka kini lebih mirip sepasang kekasih, dengan pelukan dan ciuman hangat yang sarat nuansa cinta.



Pagi itu adalah pagi terindah bagi Nisa. Menghidangkan sarapan di meja makan untuk Faris membuatnya merasa seperti seorang istri yang melayani suaminya. Faris dan adiknya sangat puas dengan masakannya. Canda tawa menghiasi makan pagi mereka yang berlangsung dengan santai. Seusai makan Hana langsung berangkat sekolah, meninggalkan sepasang sejoli yang dimabuk asmara itu tanpa kecurigaan apapun. Membiarkan keduanya menikmati hari dalam kemesraannya.

Tapi, kalau kamu berpikir malam itu keduanya melakukan hubungan-hubungan khusus suami istri, percayalah bahwa kamu salah besar. Mereka masih terlalu penakut untuk melakukan hubungan yang lebih jauh. Meskipun ciuman mereka semakin panas, aktivitas lain masih terhitung sopan karena tangan Faris tak pernah bergerilya seperti tangan para professional. Masih tetap pelukan sopan yang tak melibatkan rabaan ataupun sentuhan lain. Keduanya tidur terpisah dan tak ada aktivitas nakal di malam hari.

Nisa pulang dari rumah Faris sekitar pukul sepuluh pagi, setelah banyak ciuman tambahan sehabis sarapan dan mandi pagi. Kepada orang rumah ia bilang sekolah pulang cepat. Seharian ia lebih banyak mengunci diri dalam kamarnya, menikmati sensasi imajinasi yang semakin liar dibanding waktu sebelumnya.
***

Bab 2: Inikah ‘Bunga Cinta’ Itu?


Pertemuan selanjutnya ternyata lebih lama dari yang diduga. Keduanya benar-benar tersibukkan oleh tugas-tugas sekolah, hingga baru bertemu lagi (untuk berduaan tentunya) dua minggu setelahnya. Keluarga Faris berlibur ke rumah nenek di luar kota. Alasan ujian membuat Faris bisa menghindar dari paksaan orang tuanya, sehingga rumahnya bebas selama satu minggu penuh. Itulah saat yang tepat untuk bermesraan dengan Nisa, dan ia telah menyiapkan banyak hal untuk pekan yang istimewa itu.

Nisa datang pagi hari itu dengan mengenakan seragam sekolahnya. Perpisahan yang cukup lama ternyata membuat gadis itu lebih agresif, sehingga, meskipun tetap Faris yang harus memulainya, Nisa memberikan balasan yang sedikit liar dan nakal. Faris sampai megap-megap kewalahan. Sesudahnya mereka tertawa-tawa sambil berpelukan di atas sofa, sembari mata mereka menatap layar TV tanpa bermaksud menontonnya.

Sekitar menjelang siang Nisa dibonceng Faris untuk main ke Mall M. Setelah itu dilanjutkan ke taman L dan bermain sepeda air di sana. Mereka juga melakukan banyak hal yang menyenangkan, yang membuat mereka lupa waktu. Hari telah senja ketika keduanya memutuskan untuk pulang, saat langit berubah gelap dan tiba-tiba saja menjadi hujan yang sangat deras sebelum keduanya tiba di rumah. Tak sampai lima menit ketika keduanya berubah basah kuyup, dan Nisa telah menggigil kedinginan saat perjalanan belum mencapai setengahnya.

Keduanya tiba di rumah saat menjelang makan malam. Oleh-oleh yang mereka beli di jalan telah basah kuyup dan tak ada satu bagianpun yang kering dari diri mereka. Tubuh Nisa menggigil hebat dan wajahnya pusat pasi. Bibirnya agak membiru. Faris bergegas membawa gadis itu ke dalam rumah dan menyiapkan air panas di bath-tub kamar atas. Sementara menunggu gadis itu mandi, ia menyiapkan dua gelas susu coklat panas dan sekaleng biskuit kacang. Ia sendiri langsung mandi setelah itu, dan keduanya selesai setengah jam kemudian.

Nisa baru sadar bahwa ia tidak memiliki pakaian ganti, dan kebingungan sampai mengurung diri di kamar mandi. Faris berusaha meminjamkan pakaian ibunya, tapi pakaian bersih ibunya terkunci dalam lemari. Sementara itu pakaian Hana juga tak muat dan terlalu kecil. Untunglah Faris ingat bahwa di kamar tamu ada pakaian-pakaian saudara sepupunya, yang biasa disimpan di sana untuk dipakai jika menginap di rumah Faris.

“Tapi… Sepupuku tidak berjilbab. Jadi pakaiannya agak… Kamu coba aja deh cari yang pas. Aku tunggu di ruang TV…”

Nisa kebingungan sendiri di kamar tamu itu. Ia agak risih karena semua pakaian di dalam lemari itu adalah pakaian-pakaian yang gaul, serba ketat dan serba minim. Cukup lama ia memilih dan tidak menemukan juga pakaian yang cocok untuk dirinya, sehingga ia memilih pakaian yang menurutnya agak paling sopan. Tapi tetap saja serba minim. Dengan malu ia mengenakan pakaian pilihannya dan menghampiri kekasihnya di ruang TV.

Wajah Faris berubah kaget dan matanya bergerak kesana-kemari; mata yang biasa Nisa temukan pada pria-pria nakal di pinggir jalan. Tapi Nisa tahu semua ini karena dirinya, dan setengah menangis ia berusaha menutupi keterbukaan dirinya dengan kedua tangan. Bagaimana tidak?! Inilah pertama kalinya seumur hidup ia mengenakan pakaian minim di hadapan seorang pria, meskipun itu adalah kekasihnya juga. Sepupu Faris bertubuh lebih pendek dan kecil dari dirinya, sehingga kaus pink tipis bergambar Barbie yang ia kenakan benar-benar melekat ketat di tubuhnya, menampakkan lekuk-lekuk yang nyata dan mempesona. Bahkan bagian pusarnya tidak betul-betul tertutupi, meskipun berkali-kali ia berusaha menarik kaus itu ke bawah.

Sementara itu, celana hijau lumut selututnya juga sama ketatnya, dan tidak benar-benar selutut, karena tubuh Nisa yang tinggi. Nisa sebetulnya memiliki kulit yang putih bersih dan lekuk yang indah, sehingga ia nampak cantik menawan dengan pakaian seksi itu. Terlebih rambut panjangnya masih setengah basah, menciptakan sedikit gelombang yang menambah aura kecantikannya. Tapi Nisa tak terbiasa dengan hal-hal seperti itu, hingga ia merasa dirinya buruk dan norak. Ia takut Faris meledeknya, serta jengah dengan keterbukaannya sendiri.

“Kamu cantik sekali, Nisa…” Suara Faris terdengar bergetar, dan Nisa merinding ketika pria itu malah mendekatinya dan berusaha memeluknya. Ia berusaha menghindar dan tangannya menolak pelukan Faris.

“Nisa malu… Jangan, Faris… Jangan…”

“Lho… Kenapa?”

Nisa hanya menggeleng dan Faris berusaha menghormatinya. Mereka menghabiskan malam dengan menonton TV dan menghabiskan susu hangat di meja. Namun Nisa agak lebih pendiam dan gelisah. Tangannya terus-terusan memeluk bantal besar, berusaha menutupi apa yang ada di baliknya. Ia tak tahu bahwa pria di sebelahnya lebih gelisah lagi, meski alasannya sedikit berbeda. Ia terlalu sibuk oleh pikirannya sendiri hingga tak sadar bahwa mata Faris terus menelusuri dirinya, seolah berusaha menelanjangi.


Awalnya Nisa tak sadar pada sentuhan itu. Berkali-kali Faris mencium pipinya, tapi ia menganggap wajar hal tersebut. Itu hal yang biasa mereka lakukan, dan Nisa menganggapnya sebagai sun sayang yang biasa ia dapatkan. Tapi Faris kini telah melingkarkan tangan kiri melalui sandaran sofa dan mendarat di bahunya. Sedang tangan kanan diletakkan di atas lutut Nisa yang terbuka. Cuaca memang sangat dingin akibat hujan yang tidak juga berhenti, hingga elusan di lututnya terasa nyaman dan menghangatkan, membuat Nisa setengah tak sadar ketika elusan itu makin merambat ke atas pahanya yang sedikit tersingkap.

Nisa sangat suka nonton sinetron dan tayangan di TV adalah sinetron favoritnya. Adegan dan kata-kata romantis di layar kaca seperti memberi hipnotis tersendiri. Adegan ciuman memang disensor, tapi hal itu justru membuatnya tak kuasa menolak saat ciuman Faris beralih ke bibir basahnya. Untunglah saat itu sedang iklan, hingga ciuman dari Faris dapat diterima oleh Nisa sepenuhnya, yang baru sadar bahwa posisi duduk kekasihnya sangat mengintimidasi dirinya. Tapi ciuman itu begitu manis dan menyenangkan, memunculkan rasa hangat yang menggelora yang sangat ia rindukan. Tak perlu menunggu lama untuk membangitkan hasrat gadis itu. Pengalaman telah mengajarkan banyak hal kepadanya, sehingga lidahnya langsung menyambut saat Faris mulai mengajaknya bermain-main.

Bibir Nisa termasuk agak tipis, merah dan masih alami. Namun lidahnya lincah dan pandai bergerak. Dengan daya dukung kecerdasan di atas rata-rata, ia menjadi gadis yang cepat belajar dan tahu bagaimana cara memuaskan lawan mainnya. Faris sendiri sangat kaget dengan kecepatan Nisa dalam mempelajari teknik-tekik baru, hingga di akhir pertandingan lidah mereka, ia membiarkan sang gadis mengalahkannya hingga pipi gadis itu merona akibat agresivitasnya sendiri.

Ketika berciuman Nisa lupa pada apapun. Tapi setelah selesai ia baru sadar bahwa sejak tadi tangan kanan Faris terus-terusan membelai-belai pahanya, bergantian antara kanan dan kiri. Kini ia benar-benar merasakan rangsangan itu, rangsangan yang lebih terkesan dewasa dibanding sekedar ciuman bibir. Tangannya bertindak cepat, mencegah Faris sesaat sebelum tangan kekasihnya itu menyentuh bagian pangkal pahanya. Mulut mereka terdiam dan hanya mata yang berbicara. Faris meminta, Nisa menolak halus. Tangan Faris bergerak lagi, tapi Nisa mencegah lagi.

Faris tersenyum manis. “Maaf, ya… Aku kelewatan…”

Nisa ikut tersenyum.

“Lebih baik kita dengar musik aja, ya! Kita berdansa. Seperti di film.”

Nisa diam menunggu dan manut saja pada apa yang diinginkan kekasihnya. Suara lembut mengalun dari player, dan tangan Faris menjulur padanya. Nisa grogi karena ia belum pernah berdansa sebelumnya. Faris meyakinkan bahwa ia sama tidak tahunya seperti Nisa. Jadi tak usah malu karena mereka hanya berdua di sini. Dengan langkah-langkah kaku tubuh mereka bergerak pelan, saling berpelukan. Keduanya tertawa pada gerakan masing-masing, tapi tetap merasa senang karena ciuman dimulai lagi beberapa saat sesudahnya.

Tubuh Nisa hampir sama tingginya dengan Faris, hingga ia tak perlu berjinjit untuk menyambut pagutan pria itu. Ia tak tahu bahwa kecantikannya makin memesona diri Faris dan keremajaannya terus memancing-mancing gairah. Belum lagi aroma parfum menebar dari seluruh tubuhnya. Tangan Faris tak tahan untuk tidak mengelus-elus tubuh bagusnya, bergerak dari pinggang ke arah atas.

Nisa masih setengah menganggap elusan itu adalah bagian dari gerakan berdansa. Ciuman bibir Faris membuat tubuhnya lemas, hingga elusan itu ia nikmati saja seperti halnya ciuman di bibirnya. Terasa geli saat menyentuh bagian samping dadanya.

“Mmmh… Mmhhh…” Elusan tangan Faris makin mengarah ke dada Nisa, membelai-belai benda yang lunak dan empuk itu. Gadis itu mengejang karena rasa aneh yang melandanya. Itu adalah sentuhan pertamanya, dan ia masih sangat sensitif. Tangannya secara refleks berusaha mencegah, tapi Faris yang tak mau gagal lagi berusaha menahan Nisa agar tetap diam. Ciumannya makin liar hingga Nisa tak bisa mengelak. Remasan di dadanya terasa makin nyata, membuat Nisa terengah-engah akibat rangsangan hebat di tubuhnya. Ia tak kuasa mencegah remasan itu, karena bagaimanapun dirinya ternyata menikmatinya.

Keduanya terengah-engah akibat ciuman yang panjang itu. Sedang muka Nisa makin memerah, karena ia benar-benar terangsang oleh remasan tangan Faris di dadanya. Payudaranya yang berisi membuat genggaman Faris terasa penuh. Ia membiarkan dirinya terdesak ke dinding, hingga ia tidak sampai merosot jatuh saat remasan tangan Faris makin lincah dan mempermainkan puncaknya yang masih tertutup kaus. Ia hanya mendongak setengah terpejam dan tangannya yang bingung merapat ketat di tembok. Ia makin belingsatan karena di saat yang bersamaan ciuman Faris mendarat di dagu dan lehernya bertubi-tubi. Lehernya cukup panjang dan jenjang, hingga kepala Faris dapat terbenam di sana dan memagut-magutnya seperti ular.

Nisa merasakan air mata mengalir lewat sudut matanya. Ia sangat kebingungan mengenali perasaannya saat ini. Remasan tangan kanan Faris berganti menjadi ciuman bibir. Ia sempat menunduk dan hanya melihat rambut kekasihnya. Kepala Faris terbenam di buah dadanya yang telah mengeras kencang, dan Nisa dapat mendengar kecipak-kecipuk saat Faris melahap dadanya itu dengan sedikit buas.

“Faris… Faris… Ohhh. Apa yang kamu lakukan sama Nisaaa… Mmhhh… Jangan, Ris… Aahh…”

Faris telah menggulung kaus ketatnya ke arah atas, berusaha menyingkapkannya agar buah dada itu lebih leluasa dinikmati. Lelaki itu terus meremas-remas dengan lembut dan penuh perasaan. Menjepit dan mempermainkan putting susunya yang masih tertutup BH tipis berwarna krem. Mungkin Faris merasa gemas mendapati payudara yang demikian empuk dan kenyal itu, payudara perawan yang masih sangat sensitif dari sentuhan.

Keadaan Nisa kini sungguh mengenaskan. Kekasihnya menyerangnya di berbagai tempat, mempermainkan dirinya seperti sebuah boneka. Bibir dan tangan kiri di payudaranya, tangan kanan di sela-sela pahanya. Semuanya adalah sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Dulu ketika ia belum pernah mengalaminya, ia selalu berjanji bahwa ia hanya akan melakukan ini dengan suaminya di atas ranjang pernikahan. Dulu ketika hal ini tak pernah terbersit dalam benaknya, ia sangat yakin mampu menjaga kehormatannya. Tapi kini ketika benar-benar mengalaminya, ia tak tahu apakah ia akan tetap sekuat itu. Sentuhan-sentuhan ini terlalu melenakan dirinya, dan membangunkan perasaan rindunya yang telah lama terpendam. Ia sangat bingung hingga hanya mampu meneteskan air mata dan meremas remas rambut Faris.

“Aku sayang kamu, Nisa… Mmmh… Aku sayang kamu…” Terdengar rayuan Faris di sela-sela kesibukannya. Nisa hanya mampu menjawabnya dengan erangan-erangan aneh, karena saat itu tangan kanan Faris telah menembus langsung ke pangkal pahanya. Jari jemari pria itu menggosok-gosok dan mempermainkan di tempat yang paling sensitif, hingga Nisa merasakan celananya basah oleh cairan yang tak ia kenal sebelumnya.

Memang sentuhan tersebut bukanlah sentuhan langsung karena tubuh Nisa masih tertutup CD tipis dan celana ketatnya. Tapi ini adalah sentuhan pertamanya, dan semuanya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan rangsangan dahsyat itu. Apalagi setelah beberapa lama Faris tidak juga menghentikan aktivitasnya, melainkan menggesek-gesek dengan lebih liar. Kemaluannya terasa seperti diaduk-aduk, hingga makin lama ia makin merasakan desakan yang aneh sangat sulit ia pahami. Ia tak dapat menahan perasaannya. Ia terus mengerang… mengerang… hingga desakan itu makin menuju ke arah puncak… Ia tak sanggup bertahan lagi…

“Aaahh… Aaahh… Akhhhhh….” Nisa menjerit panjang saat orgasme melanda tubuhnya untuk pertama kalinya. Tubuhnya mengejang kuat, melengkung seperti busur. Kakinya merapat menjepit tangan Faris yang tak juga berhenti bergerak. Ia merasakan letupan-letupan dahsyat seperti sebuah terpaan badai. Dunia dipenuhi warna yang berpadu dengan indahnya.

“Oohh… Mamaa… Mmhhh…”

***

Bab 3: Rahasia Tubuh Nisa


Hujan mulai mereda menyisakan rintik yang jatuh perlahan-lahan. Keduanya berpelukan menikmati suasana dan sisa-sisa percintaan yang mulai mereda. Nisa tak mampu menatap Faris karena malu yang melandanya, hingga hanya menunduk dan menatap dada kekasihnya, sembari tersipu membenahi kaus ketatnya.

“Aku siapin makan malam, ya… Kamu tunggu aja dulu, ya…”

Nisa mengangguk. Sementara Faris menyiapkan makan malam, ia masuk ke kamar tidur tamu dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia menatap dirinya di dalam cermin. Satu persatu pakaiannya ia lepas dan membiarkan tubuhnya yang telanjang terpampang bebas di dalam cermin. Ia menatap bagian-bagian yang tadi dieksploitasi oleh Faris dan menemukannya basah oleh ludah serta cairan-cairan lengket lainnya. Ia tersipu malu dan membasuh lagi semuanya di kamar mandi. Ia menggunakan sabun banyak-banyak karena keringatnya telah membasahi pakaiannya. Pakaian bekas ia masukkan ke keranjang cucian dan mengenakan pakaian tidur yang tersedia di lemari.

Setelah percintaan yang melenakan Nisa barusan, gadis itu jadi mulai menyukai bentuk tubuhnya sendiri. Padahal sebelumnya ia merasa risih dengan pinggul dan payudaranya yang mulai membesar seperti ibunya. Ia juga risih dengan rambut yang mulai tumbuh di pangkal pahanya. Tapi kini Nisa tahu bahwa pria menyukai yang seperti ini. Dan ia berharap Faris akan makin mencintainya karena ia tumbuh sebagai wanita yang sempurna.

Kalau beberapa waktu sebelumnya Nisa merasa risih dengan pakaian minim yang ia kenakan, kini ia justru sangat menyukainya. Rupanya Faris juga suka melihatnya seperti ini. Sehingga ia memutuskan mengenakan gaun tidur yang terbuka di bagian atas, yang hanya di tautkan ke pundaknya dengan tali kecil. Gaun itu berwarna ungu lavender, serta tidak terlalu panjang di bagian bawahnya. Paha dan betisnya yang putih jenjang nampak indah dibalut warna lavender gaun tidurnya. Kalung dan anting mutiara berkilauan di leher dan telinganya. Ia mematut diri di balik cermin dan sangat bangga memiliki kecantikan yang sangat alami.

Makan malam berlangsung hangat dan romantis. Keduanya saling menyuapi, berbicara tentang banyak hal, dan berkali-kali ucapan Faris menjurus pada hubungan seks. Nisa malu-malu menanggapinya, dan terdiam jengah saat Faris menjelaskan bahwa orgasme bisa didapatkan melalui banyak cara. Tapi ia telah melalui wilayah terlarang itu, hingga mau tak mau harus belajar terbiasa dengan pembahasan seperti itu. Terlebih lagi beberapa waktu kemudian keduanya memutuskan untuk tidur bersama di atas satu ranjang, dan melanjutkan cumbuan mereka yang sempat terputus oleh makan malam.

Seperti semua pemain pemula yang mau banyak belajar, Nisa pandai menepiskan rasa malunya dan mengikuti instruksi Faris yang senakal apapun. Ia pasrah ketika dirinya dijadikan boneka mainan kekasihnya, dan membiarkan semua bagian tubuhnya dicumbui habis-habisan oleh bibir dan tangan Faris. Leher dan bahunya merah-merah bekas pagutan, tapi ia tak peduli dan tetap membiarkan Faris melanjutkan permainannya.

“Talinya aku lepas, ya!” Bisik Faris yang duduk di hadapannya. Dan ia hanya mampu menjawab dalam bisikan, “Terserah kamu aja…”

Nisa melihat Faris tak ragu-ragu untuk melepaskan tali gaun di bahunya dan membiarkannya jatuh ke arah perut. Ia sendiri dapat melihat bagaimana BHnya dicampakkan ke atas ranjang, hingga dadanya benar-benar terbuka di hadapan kekasihnya. Ia sempat berusaha menutupi puting susunya yang mengacung, tapi tangan Faris menariknya dan mendorong tubuhnya agar berbaring. Ia telentang pasrah, menyaksikan kekasihnya berdecak kagum pada buah dadanya yang padat kencang. Puting susunya yang merah muda segera dilahap oleh kekasihnya, dan Nisa merasakan serangan kenikmatan itu datang lagi. Puting susunya kanan dan kiri dicumbu oleh mulut dan jari Faris, dan ia hanya mampu menjerit-jerit serta meremas seprai ranjang. Kegiatan itu berlangsung beberapa menit, sampai Faris melepaskannya saat kedua puting itu makin mengacung tegak serta basah oleh ludah.

“Oh… Paha kamu indah sekali! Halus… Mulus…” Nisa menatap Faris yang berdecak kagum saat memandangi kedua pahanya. Ia sendiri memang bangga dengan pahanya, tapi tak dapat membayangkan bahwa pria akan sedemikian bernafsunya melihat paha perempuan yang terbuka. Tapi keheranannya tak lama, karena darahnya berdesir saat kedua tangan Faris mulai mengelus-elus pahanya itu, dari lutut… Terus ke arah dalam. Roknya makin tersingkap, terus terbuka…

“Boleh, kan?”

“Mmmmhhh…”

Gaun tidur Nisa tergulung ke atas hingga melewati batas perutnya. Pusarnya terlihat jelas. Celana dalamnya terpampang lebar. Faris mulai menyentuhnya dengan kelembutan yang melenakan. Nisa menggelinjang saat Faris menjilati dan menggelitiki pusarnya dengan ujung lidah. Ia menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Wajahnya semerah udang rebus. Mulutnya menganga mengeluarkan rintihan panas. Jilatan dan elusan Faris makin terpusat ke satu titik. Dengan tarikan lembut di bagian kanan dan kiri, tali CD Nisa terlepas hingga Faris leluasa membukanya. Pria itu berhenti untuk berdecak kagum, memandangi rambut-rambut halus di sebuah bukit indah yang hangat dan masih sangat rapat.

Nisa masih perawan, dan bagian itu tak pernah tersentuh siapapun selain dirinya sebelumnya. Daerah itu putih bersih dan terawat, namun menjadi merah muda dan ‘berumput’ di bagian tengahnya. Bagian lubang lebih seperti sebuah garis lurus. Tentunya perlu perjuangan ekstra keras jika ingin menemukan lubang yang tepat, dan bertambah keras lagi untuk dapat menembusnya.

Tapi tentu saja bukan itu yang akan dilakukan Faris sekarang. Nisa pasti akan berontak jika hal itu dilakukan terlalu terburu-buru. Sekarang saja paha Nisa telah merapat dengan ketat, dan kedua tangannya berusaha menutupi keterbukaannya. Gadis itu merengek-rengek pada kekasihnya,

“Jangan, Faris… Nisa malu… Nisa takut…”

“Memangnya kenapa?”

“Pokoknya jangan…”

“Aku nggak akan apa-apain, kok… Cuma lihat saja… Sebentar, ya…”

“Jangan Faris…”

Nisa merengek setengah menangis. Ia agak takut membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Tapi Faris terus meyakinkannya bahwa ia tidak akan menodai Nisa. Ia hanya akan melihatnya sebentar saja. Nisa sungguh bodoh karena mempercayai ucapan pria itu. Tak mungkin Faris menelanjanginya jika hanya ingin melihat saja. Tapi itulah yang terjadi pada Nisa. Meski berkali-kali merapatkan kaki, ia akhirnya menuruti permintaan kekasihnya dan mengijinkan Faris melakukan apa yang ia inginkan. Ia hanya menunggu dengan berdebar, dengan tubuh yang sangat gelisah dan nafas terengah-engah, ketika wajah Faris tepat berada di depan kemaluannya. Tangan lelaki itu menggenggam tangannya dan menyingkirkannya ke samping, dan ia tak tahu harus melakukan apa lagi.

“Apa kubilang?! Punyamu ini bagus sekali! Indah! Masih perawan… Kenapa kamu harus malu, sayang? Aku kan kekasihmu… Calon suamimu…”

Mungkin itu semacam mantra sihir bagi Nisa. Gadis itu sejenak lupa ketelanjangannya saat Faris mengucapkan kata ‘suami’. Suami berarti pernikahan. Dan apa yang harus dirahasiakan dari dua orang yang sudah menikah? Bukankah hal semacam ini toh nanti akan ia lakukan juga?

Muka Nisa bersemu merah menerima sanjungan itu. Matanya menatap sayu, dan merasa nyaman akan belaian Faris di paha putihnya. Faris sungguh baik karena selalu meminta izin untuk melakukan berbagai hal. Ia tentu saja harus mengizinkannya, karena Faris adalah orang yang paling ia cintai di dunia ini. Ia harus mengizinkan bila ternyata Faris tidak sekedar melihat miliknya itu, melainkan menyentuh dan membelainya dengan ujung jarinya.

“Aaah… Aahhh… Risss…. Kamu jangan…. Ohh…”

Ucapan Nisa terpotong erangannya sendiri. Bagaimanapun belaian di pangkal pahanya telah membuatnya belingsatan. Faris telah menarik sebuah bantal besar dan meletakkannya di bawah pantatnya. Pahanya direnggangkan, sangat lebar hingga ia terpaksa mengangkang, semementara lelaki itu menelusuri pahanya dengan ciuman-ciuman basah. Makin ke pangkal dan menjilatinya dengan ujung lidah.

Duh Mama… Seandainya aku tahu kenikmatan ini sejak dulu…, Nisa membatin dalam penderitaannya menerima cumbuan Faris. Lelaki itu memadukan jilatan lidah, hisapan mulut dan gelitikan jari jemari hingga membuatnya benar-benar setengah gila. Erangannya telah memenuhi seluruh kamar, dan remasan tangannya telah mengacak-acak seprai ranjang.


Faris adalah tipe pria yang sabar dan telaten. Ia seakan tahu titik-titik mana yang paling membangkitkan gairah Nisa, hingga Nisa tak peduli lagi pada aturan serta etiket yang pernah melekat erat dalam hidupnya. Tak ada lagi Nisa si gadis santun. Yang ada hanyalah gadis 16 tahun yang tengah dimabuk cinta, setengah telanjang di atas ranjang di kamar orang, dengan seorang pria asyik memagut-magut klitoris di pangkal kewanitaanya.

Jika ini sejenis penyiksaan, maka ini adalah penyiksaan yang paling menyenangkan. Cairan vagina Nisa telah membanjir, dan paha putihnya terus mengejang-ngejang akibat kontraksi hebat. Ia menjepit kepala Faris kuat-kuat, saat orgasme kembali melanda tubuh remajanya. Letupan hebat membuat pantatnya terangkat naik, membawanya mencapai puncak dengan kepuasan yang sempurna.

Malam telah larut ketika Nisa terbaring tenang di atas ranjang. Tubuhnya masih telanjang dan gaun tidurnya masih melilit di perut rampingnya. Ia menikmati sisa-sisa letupan, sesaat lupa pada Faris yang berada di hadapannya. Kesadarannya kembali ketika Faris memanggilnya,

“Nisa, kamu senang?”

Ia menatap kekasihnya yang kini berbaring menghadap dirinya. Ia mengangguk lemah seraya tersenyum. Ia merasa makin cinta kepada Faris. Ketampanan pria itu benar-benar memesonanya, dan sentuhannya telah memabukkan dirinya.

“Kamu mau, kan, gantian membahagiakanku?”

“Tentu saja, sayang! Apapun yang kamu mau, akan Nisa lakukan.”

“Benar?”

“Iya…” Suaranya serak akibat erangan-erangan tadi.

“Kalau gitu, kamu cumbu aku, ya…” Sembari mengatakan itu, Faris menarik tangan Nisa yang telanjang dan mengusapkannya ke balik celananya sendiri. Tentu saja Nisa tersentak dan menarik tangannya cepat. Ia mendapati sebuah benda keras menyembul di balik celana Faris, sesuatu yang ia tahu tapi tak pernah ia lihat secara langsung.

“Ris… A.. Apa yang mesti Nisa lakukan?”

“Seperti yang telah aku lakukan kepadamu barusan.” Faris kembali menarik tangan Nisa yang gemetar. Ia mengelus-eluskan tangan hangat itu ke kemaluannya.

“Ta… Tapi…” Nisa sangat gelisah karena mendapati benda itu makin mengeras akibat sentuhannya. Terasa panas di telapak tangannya. Sentuhan seperti inikah yang disukai seorang pria?

Faris tak menunggu jawaban dari dirinya. Lelaki itu begitu rileks saat melucuti pakaiannya sendiri, hingga benar-benar telanjang di hadapan sang perawan. Nisa sempat menutup wajah saat menyaksikan benda yang tadi ia sentuh kini mengacung tepat ke hadapannya. Bentuknya besar dan panjang, dan terlihat lebih hitam dibanding tubuh Faris yang lain. Inikah yang disebut kemaluan laki-laki? Benda inikah yang dirindukan sekaligus ditakuti banyak wanita? Nisa tak berani membayangkan seandainya Faris meminta lebih semisal hubungan seks yang sesungguhnya.

“Ayolah sayang!” Nisa tak bisa berpikir lama karena Faris kini mulai menariknya agar duduk bersimpuh. Sedangkan Faris sendiri berdiri tegak di atas ranjang, hingga penis itu kini berada tepat di depan wajahnya. Nisa meringis dan salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa. Ia memasrahkan semuanya pada kekasihnya, yang ternyata menarik tangannya agar menggenggam kemaluan yang kekar itu. Nisa kini tahu apa yang diinginkan oleh Faris.

***

Bab 4: Sarapan Spesial


Esoknya Nisa bangun kesiangan. Hampir tengah hari saat ia membuka mata dan mendapati tubuhnya sangat letih. Faris masih nyenyak di sebelahnya—bagian bawah tubuh telanjang pria itu tertutup selimut. Ia menatapnya dengan pandangan sayang, mengenang percintaan mereka yang sangat membara malam tadi. Entah berapa kali Faris membuatnya mengalami orgasme, dan entah berapa kali pula ia memberikan Faris kepuasan yang sama dengan mulut dan jemarinya.

Nisa tersenyum geli mengingat satu peristiwa di malam tadi. Waktu itu Faris memintanya untuk naik ke atas tubuhnya dengan posisi membalik. Dengan posisi itu ia mencumbu penis Faris, sedangkan Faris mencumbui vaginanya. Faris menamainya posisi 69—sebuah nama yang sangat lucu, yang ternyata sangat mengasyikan. Tentu saja Nisa tak tahu bahwa posisi itu sangat populer belakangan ini, tapi ia memang tidak tahu apa-apa sampai ketika Faris mengajari banyak hal malam tadi.

Namun ada satu hal yang sangat Nisa sukai dari Faris, yakni ketulusan sikap pria itu dalam mencintai, dengan tetap menjaga kehormatannya meski nafsu sudah memuncak. Faris tidak memaksanya saat ia mengatakan belum siap untuk hubungan seks yang sesungguhnya. Ia ingin menyerahkannya keperawanannya di malam pengantin mereka. Faris meyakinkan bahwa semua yang mereka lakukan sejauh ini sudah lebih dari cukup. Ia juga menjelaskan bahwa untuk ukuran kehidupan remaja seusia mereka, hubungan cinta malam itu adalah suatu hubungan yang lumrah terjadi.

Padahal Nisa sendiri yakin, bahwa kalau seandainya Faris lebih memaksa dirinya, ia tidak akan bisa menolak dan dengan tulus akan menyerahkan kesuciannya. Permintaannya malam itu sebetulnya hanyalah permintaan setengah hati—Nisa sendiri tidak terlalu yakin ketika mengucapkannya. Satu sisi gelap dalam dirinya menginginkan hubungan seks melebihi keinginan Faris sendiri, Nisa tahu itu. Ia meyakininya sebagai ‘nafsu wanita’, nafsu yang pandai untuk dijaga, tapi tak akan bisa berhenti bila sudah mulai meledak.

“Aku akan sabar menunggu kesiapanmu, sayang…” Demikian Faris menegaskan.

Nisa terharu mendengar kesungguhan dari Faris. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu memberikan kebahagiaan kepada kekasihnya. Ia akan memenuhi hasrat-hasrat terpendam Faris bila pria itu menginginkannya, seperti dengan cumbuan tangan atau mulut yang spesial (ia malu sendiri saat membayangkan keliaran dirinya tadi malam saat mengoral penis Faris yang perkasa).


Dengan sedikit malas Nisa bangkit dari ranjangnya. Ia dapat melihat pakaian mereka berceceran di lantai dan tempat tidur. Terbayang ketika malam tadi ia begitu bernafsu hingga tak peduli pada apapun. Kini kesadaran telah membangunkannya, dan sedikit penyesalan menyeruak dalam hatinya. Sekali lagi ia merasa beruntung karena belum sempat melepaskan keperawanannya. Karena kini ia jadi tahu bahwa nafsunya tetap dapat disalurkan meski tanpa hubungan itu.

Nisa agak malas untuk mengenakan kembali pakaian aslinya. Lebih baik sekalian saja saat tubuhnya sudah bersih. Ia menggulung rambutnya yang kusut masai dan menjepitnya, lalu mencari pakaian di dalam lemari Faris. Di sana ia menemukan sebuah kaus longgar yang, ketika ia kenakan, panjangnya hampir mencapai lutut. Ia jadi ingat bahwa situasi seperti ini mirip sebuah adegan di dalam film. Ia tersenyum geli. Membiarkan dirinya mengenakan kaus itu tanpa apapun lagi di dalamnya.

Turun dari tangga dan menyiapkan sarapan, Nisa merasa dirinya seperti nyonya rumah, atau istri pengantin baru, setidaknya seperti yang sering ia saksikan di televisi. Setelah cuci muka dan menyikat gigi. ia menyiapkan nasi goreng dan secangkir kopi untuk kekasihnya. Ia sendiri merasa cukup dengan segelas susu hangat, lalu menatanya di atas meja makan.

Faris sudah bangun ketika ia menata meja. Pria itu hanya mengenakan celana pendek putih ketat hingga tonjolannya terlihat jelas. Nisa tersenyum manis saat tubuhnya dipeluk dari belakang. Rasa geli menyeruak ketika Faris mencium pipi dan lehernya yang terbuka, serta menggelinjang pelan saat tangan pria itu menyentuh pangkal pahanya. Faris berdecak karena Nisa tidak mengenakan apa-apa lagi di balik kausnya. Perlu perjuangan untuk melepaskan diri dari cumbuan lelaki itu, karena tiba-tiba saja sentuhan mesra itu berubah jadi sedikit liar.

“Mmmh… Udah, ah! Kita sarapan dulu! Udah siang, nih!”

“Ini juga lagi sarapan!” Faris tetap bertahan dan bahkan mulai meremas buah dada Nisa. Sedangkan sentuhan di pangkal paha gadis itu mulai berubah jadi remasan, hingga mau tak mau Nisa menggelinjang-gelinjang keenakan. Tubuhnya terangsang lagi. Ia mengernyit berusaha menahan rasa, sambil berpikir untuk menaklukan serangan itu.

Ide nakal muncul dalam benaknya saat ia merasakan tekanan di bagian pantatnya. Tanpa pikir panjang tangannya bergerak ke belakang, lalu menarik pantat Faris agar tubuh mereka lebih merapat lagi. Setelah itu ia menggerakkan tubuhnya naik turun dengan pantat yang sedikit lebih menekan.

“Ohh.. Nisa…” Situasi berubah dan Faris mulai kelabakan. Konsentrasinya pecah hingga serangan tangannya mulai mengendur. Nisa sendiri merasa geli oleh tekanan kuat di pantatnya. Tapi ia bertekad mengalahkan Faris pagi ini hingga pantatnya bergerak makin erotis. Membiarkan Faris setengah gila akibat cumbuannya yang agak nakal.

Setelah beberapa saat yang melenakan, Nisa mulai melepaskan diri dan membalik ke hadapan Faris. Bukannya berhenti, ia malah duduk berlutut dan memelorotkan celana pria itu. Disiram serta dibersihkannya kemaluan Faris dengan air putih di meja makan. Cucurannya ia biarkan tumpah membasahi kausnya sendiri. Setelah diseka dengan tisu, Nisa mulai menggenggam penis itu dan mengocoknya perlahan-lahan.

“Ssshhh… Ohhh…”

Faris mengerang hebat. Tapi Nisa tak peduli. Entah bagaimana ide nakal semacam itu bisa muncul dalam benaknya. Malam tadi ia masih takut dengan benda di hadapannya. Tapi kini ia telah mulai mengenalnya dengan baik, hingga mendapati dirinya ternyata sangat menyukainya. Kocokan tangan saja menjadi tidak cukup. Kepala penis yang bulat bagai helm tentara itu ia jilat perlahan-lahan, lalu mulai dilahap dengan ekspresi penuh kerinduan.

Ia telah melakukan hal semacam ini malam tadi. Awalnya terasa aneh dan menggelikan—mungkin karena baru pertama kali mencobanya. Tapi lama kelamaan ia menyukainya dan seolah ketagihan. Benda itu begitu panjang dan besar, hingga ia harus membuka mulutnya agak lebar saat ingin melahap semuanya. Nafasnya terengah-engah saat mulutnya bergerak maju mundur, sedang tangannya mempermainkan buah dzakar yang munurutnya sangat lucu itu.

Entah berapa lama ia melakukan semuanya. Yang jelas Faris makin mengerang hebat ketika sesuatu mendesaknya untuk keluar. Nisa segera berusaha mencabut mulutnya karena tahu cairan itu akan menyembur sesaat lagi. Tadi malam ia kaget karena mengiranya air kencing. Tapi Faris tak mau ia melepaskan mulutnya begitu saja, hingga ketika orgasme melanda lelaki itu, cairan sperma menyembur ke dalam mulut Nisa. Gadis itu menahan nafas agar tidak tersedak, dan mendapati cairan lengket memenuhi mulutnya.

Nisa bangkit dengan sperma mengalir di sela-sela bibir bawahnya. Ia mengernyit karena rasa anyir yang aneh dan tidak enak. Tapi Faris mendorong sperma itu dengan telunjuknya agar masuk kembali.

“Jangan dimuntahkan, sayang! Itu sehat, lho! Banyak proteinnya. Punyamu juga suka aku habiskan!”

Nisa tentu saja tahu bahwa Faris sangat bernafsu dengan cairan lendir miliknya. Tapi, jujur saja, sperma itu rasanya tidak enak. Ia menelannya dengan susah payah hanya demi menyenangkan hati Faris. Pria itu malah menertawakan dirinya karena wajahnya mengernyit aneh.

“Nggak enak, tahu! Kayak telur mentah.”


Untunglah segelas susu menetralkan semuanya hingga kesegarannya kembali pulih. Ia menemani Faris sarapan dan mendapatkan pujian dari sang kekasih. Satu hal yang baru ia temui dari Faris pagi ini, satu hal yang berbeda dari Faris yang biasanya. Faris kini terkesan lebih luwes dan seperti telah biasa melakukan hal semacam ini. Lelaki itu bahkan makan dengan tubuh telanjang. Tapi Nisa menepis perasaannya mengingat ia sendiri kini hanya mengenakan kaus basah.

Baru saja Faris menghabiskan kopinya ketika berkata pada Nisa, “Kok aku masih lapar, ya?”

“Mau Nisa buatin lagi?”

“Nggak usah. Biar aku bikin sendiri. Kamu duduk aja.”

Faris bergegas pergi ke belakang, sementara ia duduk dan menunggu. Pria itu kembali dengan membawa mentega dan susu bubuk. Nisa keheranan melihat Faris senyum-senyum sendiri. Ia tak merasa curiga sedikitpun. Mungkin Faris ingin membuat roti oles mentega. Tapi rupanya Faris memiliki rencananya sendiri, karena tiba-tiba saja Faris menarik lalu menggendong tubuhnya.

“Awww… Kamu mau apa, Faris? Lepaskan Nisa…!”

Nisa berusaha melepaskan diri, tapi Faris tak peduli. Lelaki itu hanya berseru ‘Lihat saja! Lihat saja!’ sambil membaringkan tubuh gadisnya di atas meja makan. Nisa merasa penasaran hingga membiarkan dirinya diperlakukan sedemikian rupa. Tadinya ia berpikir bahwa ia telah menang. Tapi rupanya ia terlalu cepat menduga, karena kini Faris melakukan hal yang lebih gila dari dirinya. Sebetulnya Nisa setengah membayangkan apa yang akan Faris lakukan terhadapnya. Tapi ia lebih suka membuktikannya secara langsung, karena Faris ternyata pintar dalam hal-hal semacam ini. Ia sudah merasakannya dengan hubungan mereka semalam suntuk.

Apa yang Nisa pikirkan kini nyata terbukti. Faris meyingkapkan kausnya hingga ke atas dan membuat semuanya terpampang jelas. Lalu tanpa basa-basi pria itu menyiraminya dengan air dari teko. Digosok-gosoknya tubuh telanjang itu untuk membuang sisa keringat serta lendir yang mongering. Faris melakukannya dengan sangat lembut dan telaten, hingga Nisa terbuai dan terlena dibuatnya. Apalagi ketika Faris menggosok-gosok vaginanya. Rasa dingin air teko berpadu dengan sentuhan hangat tangan Faris. Tubuhnya terasa bersih dan segar ketika Faris mengeringkannya dengan handuk tebal.

“Fuihh… Daging telah dibersihkan. Kini siap untuk disantap!”

Nisa tertawa geli mendengar perumpamaan yang lucu itu. Bagaimana mungkin Faris menyebutnya gumpalan daging yang siap disantap? Tapi rupanya memang itu yang terjadi, karena Faris kini telah mengambil mentega dan menuangkannya ke atas perutnya. Nisa terlonjak kaget. Mentega itu Faris oleskan dengan merata seperti mengoleskan krim untuk kulit. Nisa melihat tubuh bagian atasnya kini berlumur mentega kuning, dari dada menuju perut hingga ke pangkal pahanya. Faris bahkan mengoleskan mentega itu ke atas vaginanya juga, serta sedikit menyelipkannya di sela-sela lubangnya yang masih rapat.

Gila! Faris benar-benar telah gila! Nisa menemukan dirinya kini benar-benar jadi hidangan untuk sarapan pagi Faris. Tubuhnya yang telah berlumur mentega itu kini ditaburi lagi dengan susu dan cokelat tabur, hingga seluruh kulitnya terasa lengket dan agak licin.

“Yummi…! Saatnya sarapan…”

“Faris… Kamu nakal…”

Nisa telah pasrah seutuhnya dan diam saja menerima perlakuan dari Faris. Ia biarkan tubuhnya dijilati kekasihnya penuh nafsu, sembari menahan rasa geli yang merayapi. Mau tak mau ia mulai merintih juga. Terlebih ketika puting susunya yang dipenuhi taburan coklat dicucup dan dihisap dengan serakah. Ia mengerang-erang keenakan. Ini adalah sensasi tergila sejauh yang pernah ia alami. Buah dadanya serasa membengkak akibat dihisapi tanpa henti, sementara Faris tak mau membiarkan ada sisa mentega yang melekat di atas sana.

Tapi sensasi ternikmat tentu saja adalah saat jilatan lidah Faris makin menuju ke pangkal paha. Faris duduk santai di atas kursi, sementara dirinya telentang pasrah di atas meja makan. Kakinya dikangkangkan lebar-lebar, sehingga Faris dapat leluasa melakukan semua yang diiginginkan.

Faris menarik kaki Nisa agar lebih mendekat lagi. Kedua paha Nisa disampirkan di atas bahunya hingga kaki gadis itu kini menjuntai ke arah punggung. Dengan posisi seperti ini keduanya telah siap untuk apapun, dan Nisa menjerit panjang saat jilatan lidah Faris menyapu hangat bibir vaginanya.

“Mmmmhh… Mamaa… Ssshhh… Ohhhh…”

Lidah Faris terasa hangat dan menggelikan. Setiap sapuan membuat tubuhnya menggelinjang. Dan kecipak-kecipuk terdengar jelas saat Faris makin buas mencumbui keperawanannya.

Klitoris adalah bagian yang paling sensitif dari tubuh wanita. Dan siapapun akan gila jika klitorisnya dicumbu dengan gaya penuh nafsu. Rupanya Faris telah memahami ilmu tersebut, karena Nisa merasakan Faris terus saja mencumbui bagian klitorisnya. Seakan tak peduli bila ia menderita akibat rangsangan yang dahsyat itu.

Untunglah rumah ini sedang sepi. Nisa merasa bisa menjerit-jerit sepuasnya, karena hanya dengan cara itulah ia dapat mengekspresikan gairah nafsu yang melandanya laksana badai. Di sekolah pada jam seperti ini ia mungkin sedang mengantuk menghadapi jam terakhir pelajaran. Apalagi ini hari selasa. Pengisinya adalah guru yang sangat jago matematika tapi sudah separu baya serta mulai setengah tuli. Terbayang penderitaan selama dua jam pelajaran menghadapi guru seperti itu hanya untuk menghitung angka-angka.

Nisa berusaha bangun untuk melihat sendiri cara Faris mencumbui klitorisnya. Ia mengernyitkan wajah sembari mengerang-erang, karena menyaksikan Faris menghisap klitorisnya kuat-kuat. Ia menjulurkan tangan untuk membelai kepala Faris. Lelaki itu melepaskan cumbuannya dan menatapnya sembari tersenyum. Ia balas tersenyum. Ekspresi wajahnya cukup menjelaskan bahwa ia sangat menginginkannya. Dan Faris yang sangat memahami itu kembali lagi pada tugasnya.

Orgasme Nisa kali ini terasa dahsyat dan beruntun. Tubuh gadis itu mengejang hebat dan tanpa sadar pahanya menjepit kepala Faris kuat-kuat. Letupannya sangat indah dan berwarna laksana pelangi. Sesudahnya Nisa terempas kembali ke atas meja, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Rasanya seperti mimpi, mengingat beberapa hari yang lalu hal semacam ini tak pernah terpikirkan sedikitpun dalam benaknya. Hanya dalam semalam ia telah berubah drastis. Dan bila mengingat beberapa saat yang lalu ia masih seorang gadis yang lugu dan pemalu, maka kini ia merasa sangat nakal dan (entah mengapa ia mulai merasa) murahan.

Tapi, bagaimanapun, ia sangat menikmatinya…


2 komentar:

Anonim mengatakan...

up to me one day and tell me how his dad faced going to jail over [url=http://www.designwales.org/isabel-marant-outlet.htm]Isabel Marant outlet[/url] Black Jack tables for rent in California are an excellent way [url=http://www.designwales.org/isabel-marant-outlet.htm]Isabel Marant outlet[/url] and white TV. His determination to become fit grew out of a [url=http://www.designwales.org/isabel-marant-outlet.htm]Isabel Marant Sneakers[/url] and Mark Victor Hansen really put a lot of effort into this book.
my life in my children and then, after an unfortunate accident, [url=http://www.designwales.org/mbt-outlet.htm]Cheap MBT shoes[/url] homes. He built consensus in the region and introduced a [url=http://www.designwales.org/mbt-outlet.htm]MBT shoes sale[/url] and seperating yourself from just someone in one of the many mens [url=http://www.designwales.org/mbt-outlet.htm]MBT shoes sale[/url] business listings. Other ideas include getting free publicity,
than real ones, and its been that way for many years. As usual [url=http://www.designwales.org/mbt-outlet.htm]MBT shoes Outlet[/url] Why Green and Jacks should be your choice of bespoke tailoring? [url=http://www.designwales.org/nfl-outlet.htm]Nike NFL Jerseys[/url] way down the hardier vegetables and fruits. Furthermore the [url=http://www.designwales.org/isabel-marant-outlet.htm]Isabel Marant boots[/url] application, and this can be as enjoyable as the game itself is!

Anonim mengatakan...

in its setting. It shouldnt move from its position if you give [url=http://www.thehorizons.com/nike.htm]http://www.thehorizons.com/nike.htm[/url] and quite amazing. But the simplest one to make is the traditional [url=http://www.thehorizons.com/isabelmarant.htm]http://www.thehorizons.com/isabelmarant.htm[/url] Number Four: Homeschool with excellence. If you do those four [url=http://www.thehorizons.com/isabelmarant.htm]Isabel Marant Sneakers[/url] the tires turn and the turning tires make the car move. Without
The story that impacted me personally was the story about the [url=http://www.thehorizons.com/isabelmarant.htm]Isabel Marant Sneakers[/url] jack-o-lanterns sure is fun for me. In this day, almost any image [url=http://www.thehorizons.com/nike.htm]スニーカー ナイキ[/url] use a chock in order to keep the car in place. An early warning [url=http://www.thehorizons.com/louisvuitton.htm]http://www.thehorizons.com/louisvuitton.htm[/url] Blackjack,?Professor Edward O Thorpe, refined Baldwin strategy
as the particular smallest specifics of the need for stitches. [url=http://www.thehorizons.com/nike.htm]ナイキ シューズ[/url] shot at getting a glimpse of the dealer hole card.?!-- [url=http://www.thehorizons.com/isabelmarant.htm]Isabel Marant Sneakers[/url] fitness. I can still picture him doing jumping jacks on black [url=http://www.thehorizons.com/louisvuitton.htm]ルイヴィトン 財布[/url] most usually with Halloween, a holiday famous on the night just